Latar Belakang

Tenggaring mirip dengan Rambutan, tetapi Rambutan buahnya tebal dan pendek. Tenggaring adalah salah satu pohon yang termasuk dalam kelompok rambutan hutan serta tumbuh menyebar di kawasan Kalimantan. Kelompok ini pada umumnya tumbuh secara alami, rasa buahnya yang sudah matang pohon tidak seenak atau semanis rambutan yang sudah dibudidayakan, seperti Rambutan Rapiah dan sebagainya. Adapun Tenggaring terpilih menjadi flora identitas atau tumbuhan andalan Propinsi Kalimantan Tengah karena adanya keterkaitan antara sejarah tumbuhan tersebut dengan masyarakat di Kaliman­tan Tengah yang menyatu dengan budaya setempat. Tenggaring juga termasuk dalam buah langka yang saat ini sudah mulai sulit ditemukan. Kelangkaan ini disebabkan karena Tenggaring tumbuh liar di hutan-hutan, pertumbuhan po­honnya lambat, pemanfaatan buahnya sebagai buah meja pengganti rambutan kurang mendapat perhatian sehingga masyarakat kurang berminat untuk membudidayakannya. Akhirnya Pohon Tenggaring ini secara per­lahan-lahan akan hilang ditelan masa. Keadaari inilah yang menekan populasinya sehingga Tenggaring dikatagorikan sebagai buah langka. Pemanfaatan lain yaitu kayunya cukup keras d an oleh masyarakat se­tempat dipakai untuk peralatan rumah tangga. Biji Tenggaring me­ngandung minyak nabati lebih banyak dari pada Biji Rambutan. Minyak ini umumnya digunakan dalam proses pembuatan lilin dan sabun. Tenggaring berasal dari Malaysia kemudian menyebar ke Indonesia, Thailand, Vietnam dan Filipina.

Pertelaan

Pohon Tenggaring hampir sama dengan Pohon Rambutan karena masih dalam 1 marga. Tinggi pohon dapat mencapai 20 m. Bentuk dan per­cabangan daun sama dengan daun rambutan, hanya helaian daun tenggaring lebih kecil. Perbungaan tersusun malai terdapat di setiap ujung ranting. Ram­butan buah tebal, pendek dan tumpul. Kulit buah tebal berwarna kuning sam­pai merah tua. Bentuk buah seperti buah rambutan yaitu bundar telur serta daging buahnya manis yang bercampur sedikit asam. Tetapi untuk masyarakat di Kalimantan Tengah, buah tenggaring ini cukup manis dan enak, karena jarang atau boleh dikatakan tidak ada buah rambutan seperti yang ada di Jawa.

Ekologi

Pada umutnnya Tenggaring ini tumbuh liar di hutan-hutan Kalimatan. Tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 200 - 350 m dpl. serta mempunyai curah hujan 3.000 mm per tahun.

Musim Berbunga

Perbanyakan dilakukan dengan cara mencangkok, sambungan (okulasi) dan biji. Penanaman dengan biji memerlukan waktu yang lama/ pertumbuhannya lambat yaitu antara 8 - 10 tahun Tenggaring ini baru mulai berbunga dan ber­buah. Musim berbunga pada bulan Juni sampai Agustus serta musim berbuah pada bulan Oktober sampai Desember.