Flora Identitas Kabupaten/Kota di
Provinsi Jawa Tengah

KOTA MAGELANG WADUK KEDUNG OMBO KOTA TEGAL KOTA SALATIGA WADUK GAJAH MUNGKUR KOTA SURAKARTA KOTA PEKALONGAN KOTA SEMARANG KUDUS SUKOHARJO KLATEN BATANG KARANGANYAR KARANGANYAR PURBALINGGA TEMANGGUNG SRAGEN PEKALONGAN DEMAK TEGAL WONOSOBO KENDAL SEMARANG SEMARANG REMBANG REMBANG JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA PURWOREJO BOYOLALI PEMALANG MAGELANG MAGELANG BANJARNEGARA KEBUMEN BANYUMAS PATI BREBES WONOGIRI WONOGIRI BLORA GROBOGAN CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP


KOTA MAGELANG

Return to map

Dadap serep (Erythrina orientalis)

Nama lain:

Famili: Papilionaceae

Sinonim:

Deskripsi :

Pohon dadap memiliki ukuran yang sedang, tumbuhnya tidak lurus dan biasanya dapat mencapai ketinggian 15-20 m. Garis tengah batangnya  berkisar antara 30-40 cm. Daun dadap selalu berjumlah ganda tiga, dan bunganya berwarna merah. Bunganya tersusun dalam tandan. Polongnya berisi 1-2 biji yang berwarna merah atau merah keunguan. Biji mudah berkecambah dan dengan cara ini dadap memperbanyak diri, walaupun demikian, tanaman ini dapat diperbanyak dengan stek.

Ekologi:

Dadap serep tersebar di Asia Tenggara. Di Jawa terdapat diberbagai tempat, tumbuh liar atau di tanam di pekarangan rumah. Tanaman ini dapat dijumpai pada daerah dengan ketinggian 1200 m dpl.

Kegunaan:

Kayu dadap seringkali digunakan sebagai peti kemas, walaupun tidak dapat dipakai sebagai bahan bangunan. Di beberapa daerah di Jawa, kayu dadap digunakan sebagai kayu bakar. Selain itu dadap juga digunakan sebagai pohon  penyangga.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya


Return to map


WADUK KEDUNG OMBO


Return to map


KOTA TEGAL

Return to map

Widuran (Zizipus mauritiana)

Nama lain: Widara, Dara, Bidara

Famili: Rhamnaceae

Sinonim : Rhamnus jujuba L., Rhamnus mauritiana Soyer-Willemet, Ziziphus jujuba (L.) Lam., non P. Mill., Ziziphus aucheri Boiss., Ziziphus jujuba (L.) Gaertn., Ziziphus jujuba (L.) Gaertn. var. fruticosa Haines, Ziziphus jujuba (L.) Gaertn. var. stenocarpa Kuntze, Ziziphus mauritiana Lam. var. deserticola A. Chev., Ziziphus mauritiana Lam. var. orthacantha (DC.) A. Chev., Ziziphus orthacantha DC, Ziziphus poiretii G. Don, Ziziphus rotundata DC.

Deskripsi:

Tanaman pohon atau ada pula yang perdu menyemak ini dapat mencapai tinggi kira-kira sekitar 15 cm, tumbuh tegak, atau menyebar dengan cabang-cabangnya yang menjuntai. Pohon selalu hijau atau setengah meranggas. Berdaun tunggal dengan letak yang berselang-seling, berbentuk bundar-lonjong, berukuran 2-9 cm x 1,5-5 cm, dengan tepian yang berkilap, tidak berbulu. Tulang daun membujur nyata dengan tangkai daun berukuran panjang 8-15 mm. Bunga muncul dari ketiak daun, berbentuk payung menggarpu, panjangnya 1-2 cm, tersusun atas 7-20 kuntum bunga. Gagang bunga panjangnya 2-3 mm, dengan diam bunga 2-3 mm, berwarna kekuningan, harum. Daun mahkota berjumlah 5 helai, dengan daun kelopknya bercuping 5. Benang sari 5 utas, dengan bakal buah beruang dua dan tangkai putik bercabang 2. Cakramnya bercuping 10 atau beralur-alur. Buahnya bertipe buah batu, berbentuk bulat, sampai bulat telur, dapat mencapai ukuran 6 cm X 4 cm. Kulit buah halus atau kasar, mengkilap, berwarna kekuningan sampai kemerahan atau kehitaman. Daging buah berwarna putih, banyak mengandung sari buah, rasanya asam atau manis. Biji terletak dalam batok yang berbenjol dan beralur tidak beratiran yang berisi 1-2 inti biji yang berwarna coklat. 

Ekologi:

Tanaman ini berasal dari Timur Tengah dan telah menyebar di Wilayah Tropik dan sub tropik, termasuk Asia Tenggara. Tanaman ini dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi, tetapi tumbuhan ini lebih menyukai udara yang panas dengan curah hujan berkisar antara 125 mm dan di atas 2000 mm. Suhu maksimum agar dapat tumbuh dengan baik adalah 37-48°C, dengan suhu minimun 7-13°C. Tanaman ini umumnya ditemukan pada daerah dengan ketinggian 0-1000 m dpl.

Kegunaan:

Buah bidara dapat dimakan dalam keadaan segar atau diperas menjadi minuman penyegar, diawetkan atau dibuat manisan. Daun muda, dapat digunakan sebagai sayuran, atau pakan ternak. Kulit kayu dan buahnya menghasilkan pewarna. Kayunya kemerahan, bertekstur halus, keras, dan tahan lama, dan digunakan sebagai kayu bubur, peralatan rumah tangga, atau peralatan lainnya. Buah, biji, daun, dan kulit kayu, serta akar berkhasiat untuk pengobatan dan membantu pencernaan.

Referensi:

 

Latif AM. 1992. Bidara  Zizipus mauritiana. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.

LAL G.; FAGERIA M.S.; GUPTA N.K.; DHAKA R.S.; KHANDELWAL S.K.  2002. Shelf-life and quality of ber (Ziziphus mauritiana Lamk) fruits after postharvest water dipping treatments and storage.  J Hort.Sci. Biotech. 77 (5): 576-579(4)

Invasive Species Specialist Group (ISSG). 2005.  Ziziphus mauritiana (shrub, tree).  Global Invasive Species Database.  Australia.

FACT Sheet.  1998.  Ziziphus mauritiana - a valuable tree for arid and semi-arid lands. FACT 98-03, June 1998

Wikipedia, the free encyclopedia.  2006. Ziziphus mauritiana http://en.wikipedia.org/wiki/Ziziphus_mauritiana.  9 February 2006.


Return to map


KOTA SALATIGA

Return to map

Rejasa (Elaeocarpus grandiflorus)

Nama lain: Anyang-anyang, ki ambit.

Famili: Elaeocarpace

Sinonim:Elaeocarpus lanceolatus

Deskripsi:

Merupakan pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 m, memiliki cabang yang cukup banyak. Batang silindris. Daun lancet dan tersusun spiral, dengan tangkai daun 0,2-4 cm panjangnya. Bunga umumnya biseksual, dengan daun mahkota berukuran lebih panjang dari sepal, putih, krem, atau kehijauan.  Memiliki 4-6 bunga, dengan tangkai bunga panjangnya 2,5 cm, sepal lancet, berukuran 2-2,5 cm x 1 cm, putih bersih, dengan benang sari berjumlah 25-60, dengan panjang filament 2-4 mm. Putik memiliki banyak bulu, beruang dua, bulat telur atau jorong berukuran 2,5-4 cm x 1,5-2 cm, melancip. Buah berwarna coklat kehijauan dengan 1-7 biji di dalamnya, bertipe buah batu yang keras.

Ekologi:

Tanaman ini terdistribusi di wilayah Burma, Indo-China, Thailan, Malaysia, Sumatra, Jawa, Bali, Borneo dan Filipina.  Di Jawa, secara alamiah umumnya ditemukan pada hutan yang selalu hijau, sepanjang tepian sungai pada ketinggian 50-800 m dpl.  Pertanaman spesies ini yang telah dibudidayakan  umumnya ditemukan  pada dataran dengan ketinggian mencapai 1000 m dpl.

Kegunaan:

Umumnya ditanam sebagai tanaman hias. Di Jawa Tengah, batang rejasa digunakan untuk campuran obat tradisional. Zat yang diperoleh dari daun digunakan sebagai tonik umum, dan daunnya sendiri digunakan untuk mengobati penyakit raja singa. Bijinya, merupakan campuran untuk jamu-jamuan.

Referensi:

Aggarwal S.   Elaeocarpus L.   Plant Resources of South-East Asia. Medicinal and Poisonous Plants. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.  PP. 241-246

Soepadmo E. 1998.Elaeocarpus L InSosesf MSM, Hong LT, Prawiroatmodjo S. Plant Resources of South-East Asia.No 5(3):  Timber Trees:Lesser-known Timbers. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.  Pp 204-322.


Return to map


WADUK GAJAH MUNGKUR


Return to map


KOTA SURAKARTA

Return to map

Sirih (Piper betle L)

Nama lain:  Suruh, Seureuh

Famili: Piperaceae

Sinonim: Chavica betle L, Piper pinguispicum C

Deskripsi:

Tanaman ini berumah dua, menahun, berkayu, dan tidak berbulu serta tumbuh hingga panjang 5-20 m. Daunnya berselang, dengan tekstur menjangat, tangkai daun  berukuran 1-2,5 cm, bulat telur hingga lonjong bulat telur,  dengan ukuran  5-20 cm x 2-11 cm, membulat, pinggirannya rata, dan pucuk lancip.  Terdapat 2-3 pasang tulang daun yang muncul dari bagian bawah dan satu pasang dari tulang daun utama 1-3 cm diatas pangkal daun. Daun berwarna hijau terang.  Perbungaan silindris, letaknya berhadapan dengan daun, dan gagang bunga 1-6 cm panjangnya.  Bunga jantan panjangnya  sampai 12 cm,  dengan 2 benangsari, sedangkan bunga betina 5-5 cm, dengan 3-5 kepala putik. Buah bertipe buah batu yang gemuk, hanya pucuk buah yang bebas.

Ekologi:

Tanaman ini menyukai kondisi lingkungan yang lembab dan juga tanah dengan kelembaban yang cukup. Umumnya dibudidayakan pada ketinggian kurang dari 900 m dpl, dengan curah hujan 2250-4750 mm, selain itu naungan sangat diperlukan untuk melindungi dari angin.  Tanah yang diinginkan adalah tanah yang dalam, dengan drainase baik, dan kaya akan bahan organik, dengan pH 7-7,5.

Kegunaan:

Tanaman sirih digunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk acara ritual perkawinan, kelahiran, dan juga kematian. Tanaman ini juga diasosiasikan dengan kesehatan. Di Jawa, ekstrak daun sirih digunakan untuk kesehatan kaum wanita, antiseptik, dan juga untuk menyegarkan mulut.  

Referensi:

Food & Fertilizer Technology Center. (FFTC).  2006. Antibacterial Property Of Piper Betle L. www.Agnet.Org

Misra P,  Datta1 S K, Johri J K, Singh H B,  Srivastava A.  2004. An Improved Method for In Vitro Large Scale Propagation of Piper betle L. J. Plant Biochemistry & Biotechnology.  13: 161-164

Teo SP, Banka RA.  2000. Piper betle L  In van der Vossen HAM, Wessel M (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. Stimulants. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia Pp. 102-106


Return to map


KOTA PEKALONGAN

Return to map

Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea Widjaya)

Nama lain:  Bambu hitam, pring wulung, pring ireng, awi hideung

Famili: Poaceae

Sinonim: Gigantochloa verticillata (Willd).

Deskripsi:

Merumpun simpodial, tegak dan rapat. Rebung hijau kehitaman dengan ujung jingga, tertutup oleh bulu coklat hingga hitam.  Buluh tingginya mencapai 15 m, tegak. Percabangan tumbuh jauh di permukaan tanah, satu cabang lateral lebih besar daripada  cabang lainnya, dengan ujung yang melengkung. Buluh muda dengan bukuh hitam hingga coklat, gundul ketika tua dan keunguan, ruas panjangnya 40-50 cm, berdiameter 6-8 cm, dindingnya tebal mecapai 8 mm.  Pelepah buluh tertutup bulu hitam sampai coklat dan mudah luruh, kuping pelepah buluh membulat, tingginya 3-5 mm dengan panjang buluh bulu kejur 7 mm.  Ligula menggerigi, tingginya 2 mm, gundul.  Daun pelepah buluh terkeluk balik. Kuping pelepah buluh kecil dengan tinggi 1 mm, gundul. Ligula menggerigi, tinggi 2 mm, dan gundul.

Ekologi:

Bambu ini hanya terdapat di Jawa, walaupun telah ditanam di beberapa tempat di luar pulau Jawa.  Menyukai daerah kering dan berkapur.

Kegunaan:

Digunakan untuk membuat alat musik tradisional, dan juga untuk industri mebel, bilik dan kerajinan tangan.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Widjaya EA.  2001.  Identikit Jenis-jenis bambu di Jawa.  Puslitbang Biologi-LIPI

 

Return to map


KOTA SEMARANG

Return to map

Asem Jawa (Tamarindus indica Linn)

Nama lain: Asam, Tambaring

Famili: Leguminosae

Sinonim Tamarindus officinalis

 

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk pohon yang dapat tumbuh tinggi hingga mencapai 25 m, berasal dari Afrika tropis. Kayunya bersifat keras dan padat. Batang pohonnya yang cukup keras dapat tumbuh menjadi besar dan daunnya rindang. Daun yang masih muda (sinom) memiliki rasa yang hampir sama dengan buahnya, yaitu asam. Asam jawa merupakan sebuah kultivar daerah tropis dan termasuk tumbuhan berbuah polong. Daun asam jawa bertangkai panjang, sekitar 17 cm dan bersirip genap. Bunganya berwarna kuning kemerah-merahan dan buah polongnya berwarna coklat dengan rasa khas asam. Di dalam buah polong selain terdapat kulit yang membungkus daging buah, juga terdapat biji berjumlah 2 - 5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman.

Ekologi:

Asam kini telah dibudidayakan hampir di semua negara tropik. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah sebagai tanaman naungan.

Kegunaan:

Bunga dan buah yang berwarna hijau dapat digunakan untuk memberi rasa asam pada hidangan yang terbuat dari ikan dan daging.  Buahnya yang matang dari jenis yang manis bisa dimakan atau dibuat menjadi sari buah, sirup, dan permen.  Dikabarkan bahwa biji asam juga bisa dimakan setelah direndam dan direbus untuk menghilangkan kulit bijinya. Tepung biji asam dapat digunakan untuk membuat kue atau roti.  Minyak yang diekstrak dari biji digunakan untuk membuat cat atai vernis. Kulit kayu yang sepat digunakan sebagai obat kuat.  Daun muda dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat rematik, radang selaput mata. Tepung biji bisa juga digunakan untuk mengobati disentri atau diare. 

Referensi:

http://www.iptek.net.id: Tanaman Obat Indonesia: Asam Jawa (Tamarindus indica), 21 Januari  2006.

Coronel  RE.  1993.  Tamarindus indica L.  In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.  Pp 298-301

 

Return to map


KUDUS

Return to map

Jambu Bol (Syzygium mallaccense)

Nama lain:

Famili: Myrtaceae

Sinonim: Eugenia malaccense L.

 

 

 

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk pohon yang dapat tumbu tinggi mencapai 5-20 m, batangnya lurus, berdiameter 20-45 cm, seringkali bercabang-cabang dekat pangkalnya dan kanopinya membentuk bulat telur melebar. Daunnya saling berhadapan, berbentuk lonjong, berukuran 15-38 cm X 7-20 cm, tebalnya menjagat, tangkai daun berukuran 0,5-1,5 cm panjangnya, tebal, berwarna merah saat muda. Bunga muncul pada batang utama atau bagian ranting yang telah tua, dengan panjang bunga sekitar 6 cm. Korola berjumlah empat, berwarna merah atau merah jambu, petal panjangnya 7–11 mm. Bunga memiliki stamen yang cukup banyak, bebas, berwarna merah, memiliki panjang 1–2 cm. Bunga musiman, dan muncul dalam satu atau dua bulan, tetapi ini tergantung pada lokasi/daerah. Jambu bol berbunga ketika telah berumur 7-8 tahun. Buah jambu bol berukuran cukup besar, bulat lonjong dengan panjang 3–7 cm, merah mengkilap, terkadang berwarna putih dengan strip merah. Seperti halnya dengan bunga, buah juga sangat beragam tergantung daerahnya. Ketinggian dan iklim lokal menjadi faktor pembatas. Buah masak dalam 60 hari. Tanaman dapat memproduksi buah dalam lima tahun sejak penanaman. Setiap buah mengandung satu biji yang besar, berbentuk bundar dengan diameter 1.6–2 cm,  berwarna coklat terang. Laju pertumbuhan setiap tahun tanaman ini adalah 0,6-1 m.

Ekologi:

Tanaman ini telah terdistribusi di wilayah tropis, terutama  Indo-Malaya, Asia Tenggara, Melanesia, Polynesia, and Micronesia. Tanaman ini biasaya ditemukan pada wilayah lembab dan dapat beradaptasi dengan berbagai tipe tanah. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 sampai 1200 m dpl, tetapi umumnya ditemukan dibawah ketinggian 600 m dpl. Curah hujan tahunan yang dibutuhkan adalah  sekitar 1500 mm.

Kegunaan:

Jambu bol dapat dikonsumsi langsung menjadi buah meja, buah yang matang rasanya sangat manis. Selain itu seringklai di setup dengan buah lain untuk mengurangi rasa asam buah lainnya. Kulit batang, daun, dan akar jambu bol digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kayunya berwarna kemerahan dan keras, diam yang besar menjadikan batang jambu bol dapat digunakan sebagai bahan bangunan.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna

Jaya

W. Arthur Whistler and Craig R. Elevitch. 2005.   Species Profiles for Pacific Island Agroforestry: Syzygium malaccense (Malay apple).  Dec. 2005. www.traditionaltree.org

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G, Mogea JP, Sukardjo S, Sunarto AT.  1977.  Buah-buahan.  Bogor: Proyek Sumberdaya Ekonomi-Lembaga Biologi Nasional-LIPI. 


Return to map


SUKOHARJO

Return to map

Turi (Sesbania grandiflora)

Nama lain: Toroy, tuwi,

Famili: Papilonaceae

Sinonim:  Agati grandiflora, Robinia grandilora, Aechynomene grandiflora

Deskripsi:

Tanaman yang termasuk pohon ini umumnya tumbuh tegak lurus, dapat mencapai tinggi 12 m, dengan bagian bebas cabang 5-7 m dan berdiameter sampai 30 cm. Kulit luar berwarna kelabu coklat. Daunnya majemuk menyirip ganjil. Bunganya yang berbentuk seperti kupu-kupu bertangkai pendek dan pada waktu masih kuncup berbentuk seperti bulan sabit. Kelopak bunga berbentuk genta dan berwarna hijau. Mahkota bunga berwarna putih, atau merah darah. Kadang-kadang dijumpai yang bermahkota merah musar. Polongnya menyerupai kacang panjang dan berisi 15-50 biji. Tanaman ini dapat berkembang biak dengan biji. Biji-biji tersebut disemaikan terlebih dahulu. Biji yang ditaburkan tanpa naungan dapat berkecambah hingga 80%. Selain itu tanaman ini juga dapat berkembangbiak dengan stek.

Ekologi:

Turi dikenal masyarakat dengan baik. Tempat asal jenis ini tidak diketahui, tetapi sekarang turi banyak dikembangkan mulai dari daerah Afrika sampai ke daerah Pasifik. Di Indonesia jenis ini banyak ditanam di Jawa dan di daerah transmigrasi yang ornanya berasal dari Jawa. Selain untuk sayuran, turi ditanam sebagai tanaman hias atau tanaman pekarangan. Jenis ini menyukai tempat yang terbuka dan tumbuh dengan baik pada dataran rendah hinggi ketinggian + 200 m dpl. Pada ketinggian diatas 200 m, walaupun dapat hidup, pertumbuhannya kurang baik.

Kegunaan:

Kayunya mempunyai berat jenis 0,38 dan digolongkan dalam kelas keawetan V. Dari kayunya dapat dibuat kertas dengan dibuat kertas dengan campuran bambu. Biasanya kayu ini digunakan pula untuk papan maupun sebagai kayu bakar. Daun dan polong mudanya dapat dimakan. Bunganya yang berwarna putih disayur. Bijinya dimanfaatkan untuk tempe. Daunnya sangat baik untuk makanan ternak dan pupuk hijau.

Referensi :

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja, Setijati dkk.  1977.  Kayu  Indonesia.  Bogor: LBN-LIPI; LBN 14, SDE 55.  Proyek Sumber Daya Ekonomi.


Return to map


KLATEN

Return to map

Kemuning (Murraya paniculata L. Jack)

Nama lain: Kamuning, Kayu Gading.

Famili: Rutaceae

Sinonim: Chalcas paniculata L, Murraya odorata Blanco, Murraya sumatrana Roxb

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk semak atau pohon kecil dengan mencapai tinggi 15-20 m, selalu hijau, tidak banyak bercabang, panjang batang 3 m dan diameter 40-60 cm. Batang tipis, dengan permukaan yang halus. Daun tersusun spiral, daun majemuk menyirip gasal. Bunga biseksual tumbuh pada ujung panikel, biseksual, dan sepal bersatu pada bagian basal bunga, dan ovari superior. Petal linier dengan stamen berjumlah 10. Spesies ini berbunga pada malam hari, pada bulan Maret-Mei dan Juli-Oktober. Buah berbentuk buni, dengan biji yang diselimuti membran.  Tanaman ini dapat berkembang biak dengan biji.

Ekologi:

Secara alamiah, tumbuhan ini banyak ditemukan di hutan hujan dataran rendah dan bukit, biasanya pada tanah berbatu pada ketinggian maksimum 600 m. 

Kegunaan:

Kayu, khususnya kayu akar memiliki penampilan yang sangat menarik, dan harganya sangat mahal.  Daun, buah, dan batang digunakan untuk keperluan pengobatan yang berkaitan dengan pencernaan. Bunga digunakan untuk keperluan dekorasi atau kosmetik.  Buah masak dapat dimakan.

Referensi:

Tue HV.  1998. Murraya J.Konig ex L. L In Soesf MSM,  Hong LT, Prawirohatmojo S (Eds).  Plant Rsources of South East Asia 5(3) : Timber Trees:Lesse-known Timbers. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. Pp. 389-391

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya


Return to map


BATANG

Return to map

Nangka (Artocarpus heterophyllus)

Nama lain:

Famili:  Moraceae

Sinonim:

Deskripsi:

Tanaman ini diduga berasal dari India, dan saat ini banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, seperti Thailand dan Filipina. Tanaman ini tergolong sebagai pohon yang dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 20-25 m. Memiliki batang yang lurus, dan jika dilukai akan mengeluarkan getah yang cukup pekat. Daun berbentuk jorong atau bulat telur  dengan panjang sekitar 20 cm dan lebar 7 cm. Daun melebar agak kaku dan kadangkala daun muda bercuping. Daun berwarna hijau gelap. Daunnya kaku menyerupai kulit, tapi disuka hewan ternak. Tanaman ini berumah satu, bunganya berbentuk tandan dan mengandung madu. Bunga jantan dan bunga betina terbentuk di pokok yang sama. Bunga jantan terdapat di dahan muda, di antara daun-daun dan terletak lebih tinggi dari bungan betina. Bunga betina terdapat di dahan dan batang yang tua. Buah terdapat di batang pokok dan dahan utama. Bila masak buah berbentuk bujur, berukuran lebih kurang 30 – 90 cm panjang dan 25 – 50 cm lebar. Buah yang telah masak mengeluarkan aroma yang kuat. Nangka tergolong dalam jenis buah yang tidak bermusim yaitu berbuah sepanjang tahun tetapi mempunyai hasil yang tinggi pada bulan Oktober dan November. Pohon nangka mulai dapat menghasilkan buah setelah berumur 2½ hingga 3 tahun ditanam di ladang. Pemanenan buah nangka biasanya dilakukan dengan memetik buah yang matang di atas pokok untuk untuk mempertahankan kualitas buah. Buah nangka mulai matang berkisar antara 130 hingga 140 hari atau 90 hingga 95 hari jika diberikan perlakukan pembalutan. Ciri-ciri untuk menentukan kematangan buah ialah dengan melihat tangkainya yang berubah warna dari hijau tua ke kuning terang, serta bentuk duri di bagian bawah buah yang berubah menjadi lebih jarang, lebar dan pendek. Tanaman ini dapat diperbanyak dengan biji.

Ekologi:

Nangka tumbuh dengan baik di wilayah dataran  rendah dengan iklim tropika dan dengan curah hujan tahunan lebih kurang 2540 mm dan suhu antara 27-31oC. Bisa tumbuh di berbagai jenis tanah, baik di dataran hingga ketinggian 1.000 m dpl. Tanah-tanah yang gembur, mendatar atau berbukit tidak terlalu curam merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan nangka.

 

Kegunaan:

Getah nangka yang dicampurkan dengan cuka digunakan untuk merawat patokan ular dan bengkak glandular. Akarnya juga dapat digunakan untuk merawat penyakit kulit dan asma. Akarnya juga dikatakan dapat merawat demam dan mencret. Daun yang dipanaskan dapat merawat luka, sementara batangnya mengandung sejenis bahan yang dapat menyebabkan keguguran.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek Sumberdaya Ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor

Soepadmo E.  1992. Artocarphus heterophyllus Lamp. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 86-91.


Return to map


KARANGANYAR

Return to map

Duku Mateseh (Lansium domesticum kultivar Mateseh)

Nama lain:

Famili: Meliaceae

Deskripsi:

Tumbuhan ini termasuk sebagai pohon, dan dapat dapat tumbuh dengan baik hingga mencapai ketinggian 11-20. Batangnya lurus, dan memiliki diameter 30-40 cm, dan bergetah. Kulit batangnya berwarna abu-abu, cabangnya sediki berbulu halus. Bunganya berwarna putih atau kuning, tersusun dalam untaian. Buahnya bulat telur sampai bulat. Kulit buahnya berwarna kuning pucat, kuning keabu-abuan sampai kuning. Dinding buahnya kuning muda tipis bergetah. Daging bijinya putih bening seperti lilin, rasanya manis keasaman. Daging biji tidak mudah lepas dari bijinya. Tanaman duku diduga diperbanyak dengan biji, okulasi digunakan sebagai alternatif perbanyakannya. Pohon duku yang tumbuh dari biji dapat menghasilkan buah setelah 8-10 tahun.

Ekologi:

Tumbuhan ini berasal dari kawasan Malesia dan saat ini telah tersebar  di banyak daerah di Indonesia. Tanaman ini banyak dijumpai di tempat-tempat dengan ketinggian kurang dari 650 m dpl. Untuk tumbuh memerlukan tempat yang lembab, tetapi air yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhannya. Pohon naungan menjadi salah satu syarat tumbuhnya.

Kegunaan:

Buahnya bisa dikonsumsi langsung dengan sebagai buah meja atau diolah menjadi sirup.  Kayu dari pohon duku digunakan sebagai kayu bakar.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna

Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek sumberdaya ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor

Yaacob O, Bamroongrugsa N.  1992. Lansium domesticum correa. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 186-190.


Return to map


PURBALINGGA

Return to map

Duwet (Syzygium  cumini)

Nama lain: Gamblang, Juwet

Famili: Myrtaceae

Sinonim: Eugenia cumini (L). Druce, Eugenia jambolana Lmk.

Deskripsi

Tumbuhan ini termasuk golongan pohon, dan dapat tumbuh dengan baik mencapai ketinggian 20 m, tajuk tidak rapat, daun tunggal dan bertangkai. atangnya tebal, tumbuhnya bengkok. Berdaun tebal yang bentuknya lonjong. Daun tersebut letaknya berselingan. Daun berbentuk lonjong hijau tua terletak saling berhadapan atau berseling. Tanaman ini memiliki bunga majemuk dengan setiap malai mengandung 3-8 bunga. Bunganya kecil-kecil warnanya putih, berkelamin tunggal, tetapi bunga jantan dn bunga betina terdapat pada pohon yang sama. Buahnya termasuk kedalam golongan buah buni yang berbentuk lonjong. Buah yang masak akan berwarna ungu gelap dan memiliki rasa yang asam dan manis. Bentuk bijinya bulat memanjang, warnanya merah kecoklatan. Duwet dapat berkembang biak melalui biji. Buah dihasilkan setelah tanaman berumur 4-5 tahun. Tanaman ini akan mulai berbunga pada bulan April hingga Oktober

Ekologi:

Tanaman ini berasl dari Asia tropik dan Australia. Di Jawa, tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada wilayah dataran rendah pada ketinggian dibawah 500 m dpl. Di tanah-tanah miskin berkapur atau berbatu-batu, di daerah-daerah beriklim lembab maupun kering bisa hidup. Di samping tumbuh liar di hutan-hutan sekunder di tepi-tepi pantai dan hutan-hutan jati, jamblang juga banyak ditanam di ladang-ladang atau di pekarangan sebagai pohon buah-buahan.

Kegunaan:

Buah-kulit dan daun digunakan untuk mengobati kencing manis. Bijinya dapat digunakan untuk mengobati kencing manis, diare, dan disentri. Daging buah diteliti dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes. 

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sudarsono , Gunawan D, Wahyuona Sm Donatus IA, Purnomo.  2002.  Tumbuhan Obat II: Hasil Penelitian, Sifat-sifat, Penggunaan.  Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional, Universitas Gadjah Mada

 
Return to map


TEMANGGUNG

Return to map

Tembakau Gober Kemloko (Nicotiana tabaccum kultivar kemloko)

Nama lain:

Famili: Solanaceae

Deskripsi:

Secara umum, tanaman ini termasuk tanaman  semak setahun  yang tegak dan sedikit memiliki percabangan. Tanaman bisa mencapai tinggi 2,5 m, daunnya bulat telur emamnjang dan berbuku halus. Bunganya berbentuk terompet, warnanya merah muda dan memiliki bau yang sangat membius. Buahnya buah kota bulat telur memanjang yang berisi biji-biji kecil yang sangat banyak.

Ekologi:

Tanaman ini aslinya diduga dari Amerika Selatan yang kemudian menyebar ke berbagai daerah sub tropik dan Asia. Tanaman ini memerlukan tanah yang gembur dan subur pada ketinggian sekitar 2500 m dpl.

Kegunaan:

Tembakau merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia terutama tembakau cerutu. Air rendaman tembakau dapat digunakan untuk insektisida, daunnya bisa digunakan sebagai ramuan obat tradisional.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Danimihardja, Soejono R, Soetjipto NW, Prana MS.  1978.  Tanaman Industri.  Lembaga Biologi Nasional LIPI.

 
Return to map


SRAGEN

Return to map

Syzygium polyanthum (Wight) Walp. (Salam)

Nama lain: -

Sinonim: Eugenia polyantha Wight

Famili : Myrtaceae

Deskripsi: 

Tanaman ini termasuk ke dalam golongan pohon dengan tajuk yang cukup rimbun dan dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 25 m. Daun berbentuk lonjong dengan ujung yang lancip, sebagian diketahui memiliki ujung yang tumpul dengan panjang bisa mencapai 15 cm dan lebarnya dapat mencapai 65 mm. Bunga berbentuk malai yang muncul dari bagian ranting. Bila sudah musimnya tiba, pohon ini akan dipenuhi oleh bunga. Kelopak bunga berbentuk seperti cangkir dan mahkota bunga berwarna putih.  Buah buni kecil bulat yang terbentuk pada awalnya berwarna putih dan jika telah masak akan berubah menjadi merah kehitaman yang memiliki rasa yang manis. Bunga umumnya akan muncul sekitar bulan Juli dan Nopember.

Ekologi: 

Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai dataran tinggi hingga 1000 m dpl.

Kegunaan:

Daun dari tanaman ini jika diremas mengeluarkan aroma yang harum, sehingga banyak digunakan sebagai bumbu masakan. Buahnya dapat dimakan dan bagian lain dari tumbuhan ini sperti akar dan kulit batang digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan, mislanya untuk nyeri perut.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja, Setijati, Maslichah Asy’ari, Eddy Djajasukma, Ernawati Kasim, Ischak Lubis, Siti Harti Aminah Lubis.  1978.  Tumbuhan Obat.  Lembaga Biologi Nasional – LIPI : LBN 11, SDE 53.  Proyek Sumber Daya Ekonomi.  Bogor.

 

Return to map


PEKALONGAN

Return to map

Melati Gambir (Jasminum multiflorum Burm.f)

Nama lain:

Famili: Oleaceae

Sinonim: Jasminum pubescens (Restz)

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk tanaman merambat yang kuat dengan panjang mencapai 5 m.  Batang muda biasanya berbulu, daun bulat telur , dengan ukuran 4-7 cm x 1,5-4 cm, pada bagian basal daun membulat, memiliki 4-6 pasang tulang daun sekunder, dengan tangkai daun 6-10 mm panjangnya.  Perbungaan muncul pada bagian terminal atau ketiak cabang yang pendek. Umumnya tanaman ini memiliki sekitar 40 bunga.  Bunga memiliki daun kelopak dengan panjang 13-16 mm, cuping 7-13 mm, dan tabung daun mahkota 15-22 mm panjangnya, tidak berbulu, dengan mata hijau kekuningan, dan 6-9 cuping membuka secara horisontal. Bunga sangat harum, buahnya bertipe buni bundar, hitam, dan dikelilingi oleh cuping daun kelopak.

Ekologi:

Tanaman ini dapat hidup di berbagai habitat dan ketinggian, namun demikian umumnya banyak ditemukan pada dataran rendah. Habitatnya adalah di tepi hutan, dan tidak dapat beradaptasi dengan naungan yang terlalu banyak, memerlukan kelembaban cukup, drainase air yang baik, dan bahan organik yang cukup. 

Kegunaan:

Di Jawa, tanaman ini banyak ditanam di pekarangan rumah untuk tanaman hias yang sangat disukai karena baunya yang sangat harum dan warna bunganya yang putih. Bunga melati juga digunakan di berbagai acara ritual Jawa.  Rangkain bunga melati digunakan untuk hiasan rambut pada penganten wanita.

Referensi:

 

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Rahajoe JS, Kiew R, van Valkenburg JLCH. 1999. Jasminum L. In de Padua LS, Bunyapraphatsara N, Lemnens RHMJ (Eds): Plant Resources of South-East Asia  No 12 (1): Medical and poisonous plant.  Prosea Foundation, Bogor, Indonesia Pp.  315-320

 
Return to map


DEMAK

Return to map

Belimbing Demak (Averrhoa carambola kultivar Demak)

Nama lain:  Belimbing manis Belimbing manis elimbing man

Famili: Oxalidaceae

Deskripsi:

Tanaman belimbing manis ini pohonnya bercabang lebih banyak, tingginya hanya 5-15 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis tengah hanya sekitar 30 cm. Cabang muda berambut halus seperti beludru, warnanya coklat muda. Memiliki daun majemuk. Daun berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 3-6 pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bentuknya bulat teiur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda. Bunga kecil, berwarna merah muda dan berbau harum, muncul dari ketiak daun. Perbungaan berupa malai, berkelompok, keluar dari batang atau percabangan yang besar, bunga kecil-kecil berbentuk bintang warnanya ungu kemerahan. Bentuk buah lonjong dengan 5 rusuk, warna buah matang  putih merata, warna buah muda hijau muda, dengan bobot buah  200-400 gr. Rasa buah muda segar agak kesat, dan buah matang manis berair, teksturnya agak halus, dengan aroma yang harum. Produksi buah /pohon/tahun sekitar 150-300 buah. Biji bentuknya bulat telur, gepeng. Perbanyakan dengan biji dan cangkok. Belimbing manis kultivar Demak merupakan salah satu kultivar yang terbaik.

Ekologi:

Belimbing manis ini telah menyebar secara luas di Wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia, belimbing demak ini banyak dijumpai di wilayah dataran rendah dan dataran hingga ketinggian 500 m dpl. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus, dan menyukai tanah yang bersifat masam. Tanaman ini tahan terhadap kondisi kekurangan unsur hara akibat kompetisi dengan gulma. Pohon yang berasal dari Amerika tropis ini menghendaki tempat tumbuh tidak ternaungi dan cukup lembab.

Kegunaan:

Buah masak akan sangat manis dan baik untuk disajikan sebagai buah meja.  Buah yang belum masak benar bisa digunakan untuk membuat manisan.

Referensi:

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000.  Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Jakarta: Departemen Pertanian.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan. Proyek Sumberdaya Ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor .

 

Return to map


TEGAL

Return to map

Mangga Wirasangka (Mangifera indica kultivar Wirasangka)

Nama lain:  Mangga

Famili: Anacardiaceae

Deskripsi:

Mangga memiliki batang berupa pohon, tegak, tingginya antara 10-30 m.  Kanopi yang dihasilkan dari daunnya yang rimbun dapat menjadi peneduh. Kulit batangnya abu-abu, kecoklat-coklatan, pecah-pecah, dan mengandung cairan semacam damar. Daunnya berwarna hijau gelap, dan bagian bawahnya agak terang. Daunnya memiliki panjang 4-12 inci, dan lebarnya ¾-2 inci. Bunganya terdapat dalam malai dengan warna hijau kekuning-kuningan atau kemerah-merahan yang muncul pada bagian cabang terminal. Bunga ini mengeluarkan senyawa yang mudah menguap yang dapat mengakibatkan alergi pada orang tertentu. Mangga termasuk tumbuhan poliembrioni, yaitu dapat melakukan fertilisasi sendiri tanda polinasi. Buahnya beranekaragamn bentuknya, bulat panjanag agak pipih, bulat pendek dengan ujungnya pipih bulat. Buah berukuran 2-9 inci. Tanaman ini berkembang-biak dengan biji.  Tanaman akan mulai berbuah setelah 8-10 tahun. Mangga umumnya akan berbuah pada bulan Mei-Juni dan buahnya masak pada bulan September sampai Oktober. Mangga diduga bisa berumur sangat lama, bahkan bisa mencapai 300 tahun.

Ekologi:

Mangga berasal dari Asia Selatan, khususnya India dan Burma. Tanaman mangga memerlukan suhu yang hangat, dan tidak tahan terhadap suhu yang sangat dingin. Tanaman mangga tumbuh baik pada berbagai tipe tanah, tetapi paling baik adalah pada tanah berpasir, lempung, atau lempung setengah berat dan membutuhkan udara yang kering. Tingkat keasaman yang mungkin adalah 5,5-7. Untuk perkembangan akar, mangga memerlukan tanah yang cukup dalam.  

Kegunaan:

Buah dapat dikonsumsi langsung, yang telah masak akan terasa manis, dan agak masam jika buah masih muda. Biji dapat diolah menjadi tepung biji mangga dan dijadikan sebagai dodol. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, peti kemas. Cairan kulit batang dapat digunakan sebagai bahan pembuat lem.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek Sumberdaya Ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor .

Sukonthasing S, Wongrakpanich, Verheij EWM.  1992. Mangifera indica L. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 211-216.

 

Return to map


WONOSOBO

Return to map

Pepaya Dieng (Carica pubescens Lenne & K Koch )

Nama lain: Gedang memedi

Famili: Caricaeae

Sinonim: Carica candamarcensis Hook f

Deskripsi:

Tanaman termasuk pohon atau semak, berumah dua, seperti pepaya yang banyak dikenal orang, tetapi berukuran lebih kecil baik pada semua bagian tanaman. Bunga jantan umumnya muncul pada bagian gagang bunga yang bercabang sekitar 15 cm panjangnya. Bunga betina berukuran lebih besar terdapat pada bagian cabang lain yang lebih pendek. Buah masak berbentuk bundar telur, 6-15 cm X 3-8 cm, halus, berwarna orange atau kuning, agak sedikit asam dan beraroma. Daging buah mengelilingi suatu rongga dimana terdapat banyak biji di dalamnya. 

Ekologi:

Pepaya ini umumnya banyak ditemukan di dataran tinggi, dengan ketinggian sekitar 1500-3000 m dpl. Di Indonesia banyak terdapat di pegunungan Dieng dan Bali.

Kegunaan:

Pepaya matang bisa dimakan langsung, tetapi biasanya diolah dulu dengan pemanis. 

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Van Balgooy NMJ . 1992. Carica pubescens  Lenne & K Koch. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No2.: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia Pp. 112-113

 


Return to map


KENDAL

Return to map

Kendal (Cordia bantamensis)

Nama lain:

Famili: Boraginaceae

Sinonim:

Deskripsi:

Pohon kendal ukurannya sedang, tingginya hingga mencapai 20 m, tetapi umumnya cukup rendah. Garis tengah batangnya dapat mencapai sekitar 60 cm. Kayu pohon kendal berwarna putih, tetapi cukup liat. Tajuk tanaman kendal sangat melebar dan ranting-rantingnya melempai. Bunganya berbentuk malai rata. Buahnya disebut sebagai buah batu. Pada setiap ranting akan banyak sekali terdapat buah. Warna buah merah muda, licin, dan mengkilap. Dalam setiap buah paling banyak terdapat empat biji. Tanaman kendal memperbanyak diri dengan biji, walaupun stek bisa juga dilakukan.

Ekologi:

Tanaman kendal umumnya terdapat pada tempat-tempat dengan ketinggian hingga 700 m dpl, umum ditemukan di daerah yang mengalami kekeringan pada waktu tertentu, di semak belukar, lapangan terbuka, atau tanah-tanah hutan yang mendapat sinar matahari penuh. Umumnya kendal tidak ditemukan di pegunungan  atau hutan yang rapat.

Kegunaan:

Tanaman kendal digunakan sebagai tanaman penyangga pada kebun-kebun sayur. Umumnya kayu pohon kendal hanya digunakan untuk kayu bakar. Kulit kayu digunakan sebagai obat berak darah. Daun muda digunakan sebagai sayuran.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana WarnaJaya

Sastrapradja S, Bimantoro. R.  1980. Jenis Kayu Daerah Kering.  Lembaga Biologi Nasional LIPI.


Return to map


SEMARANG

Return to map

Klengkeng (Dimocarpus logan Lour)

Nama lain:

Famili: Sapindaceae

Sinonim: Euphoria longana, Euphoria longan, Nephelium longana, Nephelium longan

Deskripsi:

Merupakan pohon yang medium dengan ketinggian mencapai 15-40 m, dan batang diameternya mencapai 1 m, memiliki banyak cabang. Daun majemuk, dengan 6-9 pasang anak daun berbentuk jorong memanjang dengan ukuran 3-45 cm X 1,5-20 cm, saling berhadapan. Petiola berukuran 1-20 cm. Pembungaan muncul pada bagian terminal, dengan panjang 8-40 cm, bunga berwarna kuning kecoklatan, dengan petal 5, berukuran 1,5-6 mm X 0,6-2 mm. Bunga berumah satu, hermaprodit, dengan stamen berjumlah 6-10, dengan filamen yang berukuran 1-6 mm. Buah bundar dengan diameter 1-3 cm, kuning kecoklatan pada kulitnya. Biji terdapat dalam daging buah yang halus putih transparan, berwarna coklat-hitam mengkilap dan halus. Tanaman ini berkembangbiak dengan bijinya atau dapat juga dengan stek.

Ekologi:

Merupakan tumbuhan subtropik yang dapat hidup dengan baik di wilayah tropis. Di Indonesia, tanaman ini banyak dibudidayakan di wilayah dataran rendah tropis yang lembab dekat laut  dengan curah hujan 2500 mm.  Akar akan berkembang ke dalam tanah 2-4 m untuk mendapatkan pasokan air yang stabil. Hidup baik dengan pH tangan 5,5-6. Pembungaan dapat terjadi saat suhu dingin.

Kegunaan:

Buah klengkeng yang manis ini dapat dikonsumsi langsung sebagai buah meja.   Buah juga dapat dibuat menjadi jus atau sirop, dapat disimpan dalam kondisi basah (manisan), atau digunakan sebagai bahan minuman.

Referensi:

Choo WK, Ketsa .1992. Dimocarpus longan Lour. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia Pp. 146-151

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Montoso Garden. 2005. Dimocarpus longan (Sapindaceae).  http://www.montosogardens.com

 
Return to map


REMBANG

Return to map

Kawista (Feroniella lucida)

Nama lain:  Buah Batok, kusta

Famili:  Rutaceae

Sinonim: Feronia lucida Scheffer

Deskripsi:

Buah batok atau buah kawista memiliki batang yang dapat tumbuh tinggi hingga mencapai 10-15 m. Batang memiliki duri, dengan cabang dan ranting yang ramping. Daun memiliki ukuran yang kecil, berwarna hijau tua gelap, serta memiliki kebiasaan meluruhkan daunnya. Daunnya majemuk berukuran panjang hingga 12 cm, dan anak daunnya berhadapan, dua sampai tiga pasang. Daun ini agak berminyak dan jika diremas mengeluarkan aroma. Pembungaan terjadi pada bulan-bulan Nopember sampai Desember. Bunganya biasanya bergerombol dengan warna putih, ada juga yang hijau atau kemerahan Bunga keluar dari ketiak daun atau terletak di ujung ranting.  Buahnya bertipe buah buni, berkulit keras, dan bersisik Buahnya berkelompok, yang terdiri dari 5-9 buah pada setiap tangkai, kulitnya licin mengkilap keras seperti batok. Kulitnya agak keras dan berwarna coklat putih. Daging buahnya berbau harum dan mengandung banyak biji serta berlendir. Masa pembentukan buah terjadi pada bulan Juli-Agustus. Buah muda akan berasa cukup sepet. Bijinya kecil, pipih berwara kuning sampai hijau muda. Tanaman ini memperbanyak diri dengan biji. Tanaman ini tumbuhnya lambat dan belum berbuah hingga usia sekitar 15 tahun.

Ekologi:

Tumbuhan ini berasal dari India dan Srilangka, dan mudah ditemukan di dataran rendah pada daerah dengan ketinggian kurang dari 300 m dpl. Tumbuhan ini memerlukan tempat yang kering, dan agak tandus. Tanaman ini banyak dijumpai di pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Umumnya banyak ditemukan berasosiasi dengan pohon jati. 

Kegunaan:

Buah tanaman kawista digunakan oleh masyarakat setempat sebagai minuman penyegar. Buah mudanya yang berasa sepet dapat dimakan sebagai campuran rujak buah. Kayunya dapat dipakai sebagai kayu bakar, sedangkan dari kulitnya diperoleh semacam blendok yang dapat dijadikan  bahan pembuat tinta. Bunga dan daunnya berkhasiat sebagai obat untuk memperlancar pencernaan. Buah kawista yang matang juga dimanfaatkan untuk obat, seperti menurunkan panas dan sakit perut, serta dimanfaatkan sebagai tonikum.  Sedangkan kulit batang kawista di beberapa negara dimanfaatkan sebagai jamu seperti untuk mengatasi haid yang berlebihan, gangguan hati, mengatasi mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga.

Referensi:

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek sumberdaya ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor .

Suara Pembaharuan.  2003.  Kawista (Feroniella lucida). http://www.suarapembaharuan.com/


Return to map


JEPARA

Return to map

Durian Petruk (Durio zybethinus kultivar Petruk)

Nama lain:

Famili: Bombacaceae

Deskripsi:

Pohon durian hidup hingga mencapai ketinggian 20-40 m. Kulit batangnya kasar dengan celah-celah sepanjang batang dan berwarna kelabu. Bunganya tersusun dalam malai yang berwarna kuning emas. Kultivar petruk memiliki  bentuk buah bulat telur dengan kulit buah yang berduri, sifat buah mudah dibelah, dengan berat 1-2,5 kg. Warna daging buah kuning, tebal daging sedang dengan rasa yang manis. Aroma durian ini tidak begitu menyengat. Produksi 50-150 buah/pohon/tahun.  Tanaman ini dapat bertahan hingga 150 tahun. Durian dapat berkembang biak dengan biji. Tanaman yang dipelihara dengan baik dapat menghasilkan buah setelah beurumur 7-8 tahun. Musim berbunga antara bulan Juni sampai September dan buah masak pada bulan Oktober sampai Februari. Tahan penyakit busuk akar.

Ekologi:

Durian sudah tersebar luas di kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara. Tanaman ini tumbuh subur pada tanah yang gembur, subur, dan iklimnya lembab pada ketinggian 0-800 m dpl. Tanaman ini selalu memerlukan air, sehingga banyak ditemukan secara liar pada tepi sungai.

Kegunaan:

Daging buah dapat dimakan dalam keadaan segar setelah buahnya dikupas terlebih dahulu. Daging buah yang disimpan dalam larutan garam dan dibumbui bumbu setelah diragikan dapat digunakan sebagai lauk-pauk yang disebut tempoyak.

Referensi:

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000.  Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Jakarta: Departemen Pertanian.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek Sumberdaya Ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor

Sukumalanandana C, Verheij EWM. 1992. Durio zibethinus Murray. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 157-175.

 

Return to map


PURWOREJO

Return to map

Manggis kaligesing (Garcinia mangostana var. Kaligesing)

Nama lain:

Famili: Clusiaceae

Deskripsi:

Pohon yang selalu hijau ini dapat tumbuh dengan ketinggian hingga mencapai 20 m. Batang tegak, kulit batang berwarna coklat dan memiliki getah yang berwarna kuning. Daun tunggal dan saling berhadapan dengan antara satu dengan yang lain. Daun berbentuk bundar, dan permukaan daun berwarna hijau gelap dengan bawah daun lebih terang. Manggis kaligesing buahnya berbentuk bulat, dengan warna buah coklat merah, dan dagingnya putih.  Sifat buah kenyal, mudah dibuka, dengan berat buah sekitar 100-125 gr, jumlah siung 4-8 siung, dan bijinya 1-2. Rasa daging buah manis keasaman/segar, berair. Tanaman ini dapat berkembangbiak melalui biji dan akan berbuah setelah berumur 8-15 tahun. Tanaman yang masih muda, akan sangat memerlukan tanaman pelindung/naungan. Tanaman ini akan mengeluarkan bunga pada bulan Mei sampai Januari. Manggis sangat sulit diperbanyak dengan bijinya, dan memiliki pertumbuhan yang sangat lambat. Tanaman ini baru akan berbuah setelah berumur 10-15 tahun. Perbanyakan dengan cangkok dan okulasi menjadi pilihan perbanyakan lainnya.

Ekologi:

Manggis berasal dari Semenanjung Malaya, dan saat ini banyak dibudidayakan di Asia Tenggara. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 1 hingga 1000 m dpl dan dapat hidup dengan baik pada berbagai tipe tanah. Tanaman ini memerlukan kelembaban dan curah hujan yang merata. Untuk berbuah optimal, drainase yang baik menjadi salah satu syaratnya.

Kegunaan:

Tanaman ini dimanfaatkan buahnya karena rasanya yang manis, dan dapat digunakan untuk pengobatan, misalnya untuk mengobati diare. Buah dapat juga dimanfaatkan menjadi sirup. Kulit batangnya dapat digunakan sebagai bahan pewarna, dan batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan.

Referensi:

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000.  Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Jakarta: Departemen Pertanian.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G, Mogea JP, Sukardjo S, Sunarto AT.  1977.  Buah-buahan.  Bogor: Proyek Sumberdaya Ekonomi-Lembaga Biologi Nasional-LIPI. 

Sudarsono , Gunawan D, Wahyuona Sm Donatus IA, Purnomo.  2002.  Tumbuhan Obat II: Hasil Penelitian, Sifat-sifat, Penggunaan. Yogyakarta: Pusat Studi Obat Tradisional, Universitas Gadjah Mada

Verheij EMW.  1992. Garcinia mangostana L. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 177-181.


Return to map


BOYOLALI

Return to map

Mawar Pager (Rosa chinensis Jacq)

Nama lain: Mawar Cina

Famili: Rosaceae

Deskripsi:

 

Merupakan tanaman semak yang menggugurkan daunnya dan tumbuh hingga mencapai ketinggian 6 m. Daunnya berwarna hijau terang, dan daun muda terdapat warna agak kemerahan. Bunga berwarna merah jambu, harum, yang sangat menarik serangga, khususnya kupu-kupu. Masa berbunga dari bulan Juni hingga September, dengan bunga hermaprodit (biseksual) dan fertilisasi dibantu oleh lebah.  Bunga memiliki banyak kelopak bunga. Buahnya berdiam sekitar 20 mm, dan terdapat lapisan tipis yang menyelubungi biji.  Mawar pagar ini berkembangbiak dengan menggunakan biji.

 

Ekologi:

 

Tumbuhan ini menyukai sinar matahari, dan hidup pada tanah yang berat (liat) dengan drainase yang baik, dan lembab. Mawar ini juga dapat hidup pada kondisi setengah ternaungi.

 

Kegunaan:

 

Pucuk daun, dan bunga  dapat dikonsumsi sebagai tambahan bahan sup, tetapi sebelumnya harus direbus terlebih dahulu.  Buah juga dapat dikonsumsi, tetapi terlebih dahulu harus direbus. Biji mawar ini mengandung sumber vitamin E.

 

Referensi:

 

Barden P. 2003. Rosa chinensis viridiflora. http://www.rdrop.com/

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Niche gardens. 2006.  Rosa chinensis http://www.nichegardens.com/

Plants For A Future: Database Search Results. 2000.  Rosa chinensis. http://www.pfaf.org/cgi-bin/pfaf/arr_html?Rosa+chinensis (UK)

 

Return to map


PEMALANG

Return to map

Srigading (Nyctanthes arbortristis)

Nama lain: Sarigading

Famili: Oleaceae

Deskripsi:

Tumbuhan ini berasal dari India. Di Indonesia sudah lama dikenal sebagai tanaman hias dan sebagai tumbuhan obat. Srigading berupa perdu atau pohon kecil yang tingginya mencapai 5 m. Batangnya bersegi empat serta berbulu-bulu pendek bila muda. Daunnya saling berhadapan, bentuknya bundar telur sampai jorong, ujungnya meruncing sedang tepi daunnya rata atau bergerigi. Karangan bunganya berupa bongkol yang biasanya terdapat pada ketiak daun atau di ujung tangkai. Bunganya berwarna merah muda dan berbau harum bila mekar. Buah yang dihasilkan berbentuk bulat telur, gepeng, berwarna coklat tua, merekah menjadi dua rongga bila sudah masak. Pada masing-masing rongga terdapat satu biji. Secara alami, tumbuhan ini berkembang biak dengan biji, tetapi dalam pembudidayaannya dikembangkan dengan stek batang.

Ekologi:

Jenis tumbuhan ini tersebar luas di seluruh bagian dunia yang beriklim panas. Di Indonesia, dijumpai di dataran rendah sampai 500 m dpl. Sering ditanam sebagai tanaman hias, tetapi kadang-kadang tumbuh liar di semak-semak atau pinggir-pinggir hutan. Menyukai tempat-tempat yang lembab tapi terbuka.

Kegunaan:

Kegunaan sarigading sebagai bahan obat diperoleh dari daun dan bunganya. Seduhan daunnya berguna untuk obat demam, encok atau sebagai tonikum. Bunganya berkhasiat untuk menyembuhkan radang kulit dan sebagai peluruh haid. Daunnya mempunyai rasa pahit, tetapi tidak mengandung alkaloid. Senyawa kimia yang sudah diketahui terdapat pada daunnya ialah metilsalisilat, tanin dan minyak atsiri yang mempunyai daya antiseptik. Rasa pahitnya diduga disebabkan oleh senyawa tanin. Pada bunganya maupun buahnya terdapat zat warna merah yang disebut nyctanthin.

Srigading termasuk tumbuhan obat yang pada waktu lampau banyak digunakan dalam ramuan jamu. Tumbuhan ini di Jawa sekarang sudah jarang dijumpai.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja, Setijati, Maslichah Asy’ari, Eddy Djajasukma, Ernawati Kasim, Ischak Lubis, Siti Harti Aminah Lubis.  1978.  Tumbuhan Obat.  Lembaga Biologi Nasional – LIPI : LBN 11, SDE 53.  Proyek Sumber Daya Ekonomi.  Bogor.

 
Return to map


MAGELANG

Return to map

Salak Nglumut (Salacca zalacca kultivar Nglumut)

Nama lain:

Famili: Palmae

Sinonim: Salacca edulis

Di Indonesia dikenal 20 kultivar salak yang dibedakan menurut daerah asal, dan cara budidayanya, salak satunya adalah salak Nglumut. Salak Nglumut merupakan salak spesifik dari wilayah Desa Nglumut, Magelang, rasanya sangat manis tanpa rasa sepat, dan masir. Salak masir nglumut berumah dua, dimana bunga jantan dan betina tidak berada dalam satu pohon yang sama. 

Deskripsi:

Tanaman salak memiliki keragaan yang kecil, hidupnya merumpun, umumnya berumah dua, dan memiliki duri yang cukup banyak. Perakarannya tidak tertancap terlalu dalam. Batangnya berbentuk stolon dai dalam tanah, dan hanya bagian ujunnya saja yang memiliki daun yang lebih tegak mencapai beberapa meter tingginya, diameternya sekitar 10-15 cm, dan seringkali bercabang. Ruas-ruas batang sangat pendek. Daun tumbuh menyirip, panjangnya sekitar 3-7 m, pelepah, tangkai dan anak daun berduri cukup banyak, panjang, tipis, berwarna kelabu sampai kehitaman, anak daunnya berukuran 20-70 cm X 2-7,5 cm. Bunga berbentuk tongkol majemuk yang muncul dari ketiak daun, bertangkai, mula-mula terbungkus oleh seludang, Bunga jantan tumbuh memanjang antara 50-100 cm, yang terdiri atas 4-12 tongkol. Bunga betina panjangnya 20-30 cm.  Bunga berpasangan, terletak pada ketiak sisik. Bunga jantan memiliki daun mahkota yang berbentuk tabung, berwarna kemerahan, sedangkan bunga betina berwarna kuning hijau. Buah yang muncul bertipe buah batu berbentuk bulat sampai lonjong. Jumlah buah per tandan sekitar 10-15 buah, buah berbentuk segitiga bulat telur terbalik, warna daging buah putih kuning, dengan berat 70 gr, dan sifat buah muda manis keasaman, dan buah tua manis. Biji umumnya berjumlah 2-3 butir per buah, tebalnya 2-8 mm, memiliki sarkotetsa yang tebal, berdaging, berwarna putih kekuningan. Buah berkembang dewasa 5-7 bulan setelah penyerbukan. Tanaman ini berkembang biak dengan biji.

Ekologi:

Salak dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah tropik, memerlukan curah hujan skitar 1700 sampai 3300 mm. Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan, tetapi memerlukan pasokan air sepanjang tahun. Hasil dan kualitas buah akan menurun jika salak ditanam pada ketinggian lebih dari 500 m dpl, dan memerlukan naungan.

Kegunaan:

Salak dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya, umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar, jika telah matang benar.  Di Jawa, buah salak juga sering diolah sebagai manisan, rujak. Kulit tangkai daunnya dapat dimanfaatkan sebagai tikar.

Referensi:

Intisari Online. November 2001: Salak, Palem berduri asli anak negeri: www.indomedia.com/intisari/

Schuiling, D.L. & Mogea, J.P., 1992. Salacca zalacca (Gaertner) Voss. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 281-284.

Wikipedia, free enciclopedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Salacca

http://www.iptek.net.id: TEKNOLOGI TEPAT GUNA: Salak (Salacca edulis), 30 December 2005.

 
Return to map


BANJARNEGARA

Return to map

Kayu Manis Cina (Cinnamomum cassia )

Nama lain:

Famili:  Lauraceae

Deskripsi:

Tanaman semak atau pohon kecil yang selalu hijau ini bisa mencapai ketinggian hingga 18 m, sangat beraroma pada semua bagian pohonnya. Daun muda sangat halus, dan kasar ketika sudah tua, warnanya abu-abu, dan agak berbulu. Daun saling berhadapan, jorong dengan bagain ujung yang runcing. Kuntum bunga sekitar 7,5-18 cm panjangnya, dengan pedisel 2-3 mm. Bunga kecil, dengan panjang sekitar 3 mm, berbulu, putih atau putih kekuningan. Buah bundar telur, dengan panjang 1-1,5 cm, berwarna hitam sampai ungu kehitaman. Biji bulat, dengan panjang 1 cm, coklat gelap. Kayu manis china ini umumnya dapat diperbanyak dengan benih atau stek.

Ekologi:

Tanaman ini merupkan tumbuhan tropis yang dapat beradaptasi dengan kondisi iklim yang beragam, dan menyukai cahaya matahari penuh, walaupun masih toleran terhadap naungan. Tanaman ini menyukai tanah masam dengan pH 4-6, dengan suhu sekitar 22°C, curah hujan sekitar 1250 mm, dengan 135 hari basah. Tanaman ini hidup di dataran rendah sampai ketinggian 300 m dpl.

Kegunaan:

Bagian daun dan batang diambi minyaknya dan  tanaman ini juga menghasilkan oleoresin.   Kayu dari pohon ini banyak diekspor.  Kulit batang dan kulit dahannya umumnya menghasilkan bahan rempah-rempah dan minyak atsiri yang dapat digunakan  untuk campuran bumbu masak, penyegar minuman, bahan ramuan obat.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Ong HC, Boer E, Ilic J, Sosef MSM. 1995. Cinnamomum Schaeffer. In   Plant Resources of South-East Asia No 5(2): Timber Trees: Minor commercial timbers. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. Pp. 130-172.


Return to map


KEBUMEN

Return to map

Kelapa Genjah Entog (Cocos nucifera kultivar genjah)

Nama lain:  klapa, kambil

Famili: Palmae: Arecaceae

Sinonim:

 

 

Deskripsi:

 

Secara umum, kelapa termasuk kelompok tumbuhan palma monokotiledon yang biasa tumbuh di pantai dan tidak dapat digolongkan sebagai pohon. Batang pohon kelapa berbentuk ramping lurus, tingginya 10 - 14 m dan dapat mencapai ketinggian 25 atau 30 m, tidak bercabang dan tidak memiliki kambium. Akar terus berkembang dari bol bagian pangkal bawah batang. Akar utama memiliki diameter sekitar 10 mm. Daunnya menyebar disekeliling hingga kisaran lebar 15-25 kaki. Daunnya berpelepah /bersirip genap dengan panjang mencapai 2 - 3 m. Daun umumnya tumbuh pada bagian apek batang, dan  daun muda akan tumbuh tiga atau empat minggu sekali. Setelah tanaman berumur 5 atau 7 tahun, setiap titik tumbuh dau berpotensi untuk menghasilkan bakal bunga. Bunga yang baru muncul akan berwarna putih dan lama kelaman menjadi kekuningan. Buahnya bulat berbentuk kerucut terbungkus serabut tebal dan bergaris tengah sekitar 25 cm. Biji kelapa merupakan buah itu sendiri dan biji ini dapat berkecambah dan tumbuh menjadi kelapa dewasa. Kelapa memiliki sabut tebal dan batok keras, berisi air dan daging yang mengandung santan.

Ekologi:

Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 900 m dari permukaan laut. Tanaman ini memerlukan sinar matahari penuh untuk tumbuh dengan baik. Sangat berdaptasi dengan kandungan garam (salinitas) pada tanah, oleh karena itu banyak ditemui pada tepi pantai. Sangat dikenal masyarakat dapat berdaptasi pada berbagai kondisi lingkungan. Di kota yang penuh dengan polusi udara, drainasi yang kurang baik, serta pencemaran bahan kimia yang tinggi, tanaman ini dapat tumbuh dengan  baik.

Kegunaan :

Tanaman ini dikenal mempunyai banyak khasiat, baik dari daging buah maupun air kelapanga, misalnya saja untuk mengatasi keracunan, panas dalam, dan lain-lain.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja, Setijati, Johanis Palar Mogea, Harini Murni Sangat, Johar Jumiati Afriastini.  1977.  Palem Indonesia.  Lembaga Biologi Nasional – LIPI : LBN 13, SDE 54.  Proyek Sumber Daya Ekonomi.  Bogor.

 
Return to map


BANYUMAS

Return to map

Nagasari (Mesua ferrea L)

Nama lain: nagasari gede

Famili: Guttiferae

Deskripsi:

Merupakan pohon medium dengan ketinggian 30 m, lurus, kurang bercabang sampai ketinggian 20 m, dengan diameter 65 cm. Memiliki akar papan pada bagian pangkal batangnya. Permukan kulit batang memanjang, agak bersisik, berwarna coklat keabu-abuan. Bagian dalam kulit batang, berwarna merah kecoklatan, sampai merah. Daun-daunnya jorong, berukuran 4,5-12,5 cm x 1-4 cm, berwarna putih pada bagian bawahnya, venasi daun tidak terlihat dengan jelas, dengan tangkai daun berukuran 4-8 mm panjangnya.  Bunga soliter atau berpasangan, dengan ukuran menyilang 9 cm.  Buah jorong, dengan panjang 3,5 cm, yang diikat oleh sepal yang persisten.

Ekologi:

Tanaman ini terdistribusi  di Asia Tenggara, dan banyak ditemukan di hutan yang hijau, di tepi sungai, pada ketinggian 0-500 m dpl, tetapi umumnya dibudidayakan pada ketinggian 1300 m dpl.

Kegunaan:

Merupakan sumber utama kayu nagasari, dan digunakan untuk konstruksi berat, dan juga untuk lantai serta furnitur, bantalan rel kereta api, dan juga digunakan sebagai tanaman hias.

Referensi:

Boer E, Sosef MSM, Ilic J. 1995. Mesua L.  In Lemmens RHMJ, Sorianagara I, Wong WC (Eds). Plant Resources of South East Asia No 5(2): Timber trees: Minor commercial timbers. Bogor:  Prosea Bogor .Indonesia  Pp.339-395

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

 

Return to map


PATI

Return to map

Kapuk Randu (Ceiba Pentandra L.) Gaertn.

Nama lain:

Famili: Bombaceae

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk ke dalam pohon dengan ketinggian dapat mencapai 30 m, tajuk kerucut dan jarang. Kayunya cukup lunak dan berwarna hijau dengan duri-duri jarang. Daun majemuk membentuk jari dan memiliki anak daun hingga 9 helai dalam susunan spiral. Bunga tunggal dengan kelopak yang membentuk lonceng. Buah muda berwarna hijau memanjang seperti pisang dengan panjang dapat mencapai 15 cm, menggantung dan membuka dari bawah ke atas didalamnya terdapat rambut wol yang menyelimuti biji. Tanaman ini dapat diperbanyak dengan biji atau dengan stek. Pohon akan akan tumbuh dan mulai berbuah 3-4 tahun setelah ditanam. Pohon akan menggugurkan daunnya saat musim berbunga. Tanaman berbunga mulai bulan Mei hingga Oktober.

Ekologi:

Tanaman ini diduga berasal dari benua Amerika. Tanaman ini memerlukan cukup banyak curah hujan pada awal pertumbuhannya dan pada periode kering, selama pembungaan, dan saat pembentukan buah. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di wilayah tropis dengan kelembaban yang cukup tinggi dan dapat berkembang baik pada ketinggian dibawah 3500 m dpl. 

Kegunaan:

Kapuk randu yang dihasilkan banyak digunakan secara luas sebagai isi untuk bantal dan kasur. Bagian lain seperti biji, daun maupun kulit digunakan untuk kepentingan pengobatan berbagai penyakit. 

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Danimihardja, Soejono R, Soetjipto NW, Prana MS.  1978.  Tanaman Industri.  Lembaga Biologi Nasional LIPI.

 
Return to map


BREBES

Return to map

Bawang Merah Bima Brebes (Allium cepa

 kultivar Bima Brebes)

Nama lain: Brambang

Famili: Liliaceae

Sinonim:

Deskripsi:

Daerah Brebes sudah sangat terkenal dengan produksi bawang merahnya, bahkan saat ini disebut-sebut sebagai sentra bawang merah terbesar di Jawa Tengah. Bawang merah termasuk ke dalam tanaman terna yang rendah yang tumbuh hingga mencapai ketinggian 15-50 cm. Umbinya bulat, sebelah atasnya lancip, berwarna merah lembayung dengan umbi-umbi samping yang bulat  tertekan dan ujungnya melancip. Bagian bawah umbi terletak dalam tanah, sedangkan bagian atasnya berada di atas tanah. Daunnya berbentuk pita yang bergeronggang dengan ujung melancip, warnanya hijau kebiru-biruan. Bunga berbentuk payung membulat dengan banyak bunga yang berwarna merah jambu, lembayung atau putih.

Ekologi:

Bawang merah ini memerlukan tanah yang subur dengan drainase yang baik karena umbinya tidak tahan terhadap genangan air. Di Jawa umumnya, bawang merah ditanam pada dataran rendah hingga pegunungan. Di Indonesia, bawang merah ini umumnya di tanam di tegalan pada musim hujan atau di sawah pada musim kemarau.

Kegunaan:

Umbi bawang merah dapat dimakan setelah dikupas. Umumnya dibuat acar atau untuk campuran bumbu.  

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Permadi AH, van der Meer QP.  Allium cepa L cv. Group Aggregatum. Plant Resources of South-East Asia. Vegetables. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.  Pp. 64-68


Return to map


WONOGIRI

Return to map

Ketela Pohon (Manihot esculenta)

Nama lain: pohung, sampeu, singkong,

Famili: Euphorbiaceae

Sinonim:

 

 

Deskripsi:

Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 1,5-5 m. Warna batangnya beranekaragam. Daunnya terbagai menjari, dengan cangkap 5-9. Umbinya ada yang manis, adapula yang pahit, berwarna putih kusam atau kuning terang. Tanaman biasanya akan menghasilkan 5-10 umbi. Tanaman ini dapat diperbanyak dengan cara stek.

Ekologi:

Tanaman ini telah menyebar luas di daerah-daearh tropis, dan dapat hidup pada berbagai kondisi.  Tahan terhadap kekeringan. 

Kegunaan:

Umbinya dapat diolah menjadi berbagai macam panganan, dan juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan tepung tapioka. Daun muda digunakan untuk sayuran. Salah satu kultivar tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman hias karena daunnya yang indah.

Referensi:

Anwar M,  Cholik DS, Samsudin I.  1977. Ubi-ubian. Lembaga Biologi Nasional LIPI.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya


Return to map


BLORA

Return to map

Jati Blora (Tectona grandis )

Nama lain: jatos, delig, dodolan, jaten

Famili: Verbenaceae

Deskripsi:

Tanaman yang termasuk pohon memiliki batang yang besar dan tingginya bisa mencapai 45 m.  Jika batangnya dipotong melintang maka  beberapa lingkaran dan dari lingkaran itu dapat ditentukan umur jati. Daunnya tunggal berbentuk bulat telur yang akan gugur pada musim kemarau. Daunnya memiliki permukaan yang kasar, dan bunganya berbentuk jantera corong, berwarna putih, terkadang agak merah muda. Bunga akan muncul pada bulan Mei-Desember. Tanaman ini dapat memperbanyak diri dengan biji.

Ekologi:

Tanaman jati banyak dibudidayakan di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan sedikit di Jawa Barat. Umumnya jati banyak ditemukan di Wilayah pada ketinggian 1-800 m dpl. 

Kegunaan:

Kayu jati sangat bernilai komersial, karena sangat kuat dan tahan lama. Dapat digunakan untuk membuat kapal, kereta, jembatan, bantalan rel kereta api, dan perkakas rumah tangga. Daunnya oleh penduduk digunakan sebagai pembungkus makanan. Kulit akar dan daun muda digunakan untuk pewarna barang-barang anyaman.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja, Setijati dkk.  1977.  Kayu  Indonesia.  Bogor: LBN-LIPI; LBN 14, SDE 55.  Proyek Sumber Daya Ekonomi.


Return to map


GROBOGAN

Return to map

Lombok Besar (Capsicum annum )

Nama lain:  cabai, cabai besar

Famili: Solanaceae

Deskripsi:

Tanaman ini merupakan herba tahunan, dengan ketinggian 0,5-1,5 m, tegak, dan banyak cabang. Batang utama tidak beraturan dengan diameter sekitar 1 cm, dengan warna batang serta cabang hijau sampai kecoklatan. Daun berselang, sederhana, dengan petiola berukuran 10 cm , daun bulat telur memanjang, 10-16 cm X 5-8 cm, berwarna hijau terang sampai gelap.  Bunga biasanya muncul secara soliter, terletak pada terminal, dengan pedisel berukuran 3 cm panjangnya, berwarna putih dengan bagian dalam keunguan. Kalik berbentuk seperti cangkir, persisten saat buah mulai terbentuk dan memncapai 8 cm. Korola memiliki diameter 8-15 mm.   Buahnya bisa mencapai 30 cm, sangat beragam dalam ukuran, bentuk, warna.  Buah berwarna hijau, kuning ketika masih muda, dan  berwarna merah, orange, kuning, sampai coklat ketika telah matang. Biji yang terkandung dalam buah berwarna putih krem, gepeng, bundar, dengan diam 3-4,5 mm, dengan ketebalan 1 mm. Tanaman ini berkembang biak dengan biji, dan berkecambah 6-21 hari.

Ekologi:

Tanaman cabai besar umumnya di tanaman di daerah hangat dan toleran terhadap naungan, walaupun akan menghhambat pembungaan. Tumbuh dengan baik pada keadaan tanah pH 5,5-6,8 dan ketinggian yang sangat beragam, serta curah hujan 600-1250 mm.

Kegunaan:

Cabai besar ini sangat umum dikenal oleh seluruh masyarakat dunia, dapat dikonsumsi segar, dikeringkan. Citarasa cabai dan warna yang merah menyala digunakan untuk industri pangan, misalnya saus pedas. Untuk keperluan rumah tangga, cabe besar digunakan untuk masakan sayur.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Paje MM, van der Vossen HAM.   Capsicum L.  Plant Resources of South-East Asia. Vegetables. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia Pp 136-148.

 
Return to map


CILACAP

Return to map

Sukun Cilacap (Artocarpus altilis Parkinson)

Nama lain: Sukun, kulur

Famili: Moraceae

Deskripsi:

Merupakan pohon berumah satu, yang dapat tumbuh hingga ketinggian 30 m. Batang utamanya dapat mencapai tinggi 5-8 m dan berdiameter 0,6-1,8 m. Memiliki percabangan yang banyak, dan daunnya selalu hijau. Ranting-rantingnya memencar sangat rapat, dan kuncup mencapai panjang 10-20 cm. Daun berselang-seling, berbentuk bulat telur sampai menjorong, berukuran 20-60 cm X 20-40 cm. Sewaktu muda pinggirannya tidak berlikuk-likuk dan ketika besar, daun menyirip dalam bercuping 5-11 lembaran. Lembaran daun tebal, menjangat, berwarna hijau tua dan mengkilap pada bagian atas, serta hijau pucat dan kasar  pada bagian bawah, dengan tangkai daun panjangnya 3-5 cm.  Bunga akan muncul pada ketiak daun, dengan bunga jantang yang menggantung membentuk gada, bertekstur karang, kunin, dan bunganya kecil sekali. Bunga betina tegak dan kaku, berbentuk bulat atau silinder, berukuran (8-10) cm x (5-7) cm, berwarna hijau, berjumlah banyak. Buah yang terbentuk merupakan buah ganda yang merupakan gabungan dari seluruh pembungaan, berbentuk silinder atau buloat dengan diameter 10-30 cm. Kulit buah berwarna kehijauan agak kuning. Biji terdapat dalam daging buah dan berwarna kecoklatan bulat atau pipih dengan panjang 2,5 cm. Tanaman sukun yang ditanam mulai berbuah saat berumur 4-10 tahun.

Ekologi:

Asal usul tanaman ini tidak jelas, namun Indonesia, menjadi salah satu wilayah dengan keanekaragaman genetik yang besar. Tanaman ini tumbuh pada wilayah tropik yang lembab, dan selama iklim muson, setengah pohonnya meranggas. Tanaman ini menyukai iklim panas dengan suhu 30-40°C. Pohon sukun cocok untuk daerah tropis dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl, walaupun dapat hidup juga pada ketinggian 1500 m dpl atau di daerah jauh dari equator dengan kualitas yang tidak begitu bagus.

Kegunaan:

Sukun telah lama digunakan sabagai tanaman pokok. Buah muda maupun yang masak, serta bijinya dapat dikonsumsi setelah diolah (dimasak, dibakar dll). Sukun dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, sayur lodeh, kue, atau dijadikan pasta seperti keju. Daun dan buah yang jatuh dapat digunakan sebagai pakan ternak. Kulit kayu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakaian. Pohon secara keseluruhan dapat digunakan sebagai pelindung untuk tanaman yang lain. 

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek Sumberdaya Ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor

Rajendran E.  1992. Artocarphus altilis (Parkinson) Fosberg. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 83-86.


Return to map