Fauna Identitas Kabupaten/Kota di
Provinsi Jawa Tengah

KOTA MAGELANG WADUK KEDUNG OMBO KOTA TEGAL KOTA SALATIGA WADUK GAJAH MUNGKUR KOTA SURAKARTA KOTA PEKALONGAN KOTA SEMARANG KUDUS SUKOHARJO KLATEN BATANG KARANGANYAR KARANGANYAR PURBALINGGA TEMANGGUNG SRAGEN PEKALONGAN DEMAK TEGAL WONOSOBO KENDAL SEMARANG SEMARANG REMBANG REMBANG JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA JEPARA PURWOREJO BOYOLALI PEMALANG MAGELANG MAGELANG BANJARNEGARA KEBUMEN BANYUMAS PATI BREBES WONOGIRI WONOGIRI BLORA GROBOGAN CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP CILACAP


KOTA MAGELANG

Return to map

Burung Gelatik Madu (Parus major)

Nama lain : Gelatik Batu Kelabu, Serai Bakau, Great Tit

Famili : Paridae.

Deskripsi :

Berukuran kecil (13 cm). dengan warna hitam, abu-abu dan putih. Kepala dan kerongkongan hitam, kecuali bercak putih mencolok di sisi muka. Dibedakan dari Gelatik Jawa oleh paruhnya yang hitam kecil. Suaranya berupa kicauan yang sangat ribut ”ci-wiit” atau ”ci-ci-ci”. Biasa mengunjungi hutan mangrove, pekarangan dan hutan terbuka. Burung kecil yang lincah, bergerak aktif naik turun di puncak pohon atau di permukaan tanah. Memakan beragam makanan tetapi kebanyakan serangga yang dikumpulkan di pohon. Berburu dalam kelompok keluarga atau berpasangan.

Penyebaran Global :          

Paleartik, India, China, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:

Di Sumatera, Jawa dan Bali tidak jarang tetapi penghuni lokal, ditemukan di hutan mangrove daerah pantai sampai ketinggian 2000 m dpl. Di Kalimantan burung ini jauh lebih jarang, sebagian besar terbatas di hutan mangrove dan hutan pantai, walaupun cukup umum di sekitar Banjarmasin.             

Referensi :

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


WADUK KEDUNG OMBO


Return to map


KOTA TEGAL

Return to map

Itik Tegal (Anas platyrhincos)

Nama lain  : Itik Kalung, Itik Tegal, Itik Mojosari, Itik Alabio

                        Mallard.

Famili : Anatidae.

Deskripsi:       

Berukuran sedang (58cm), bentuk liar dari itik domestik. Jantan: kepala dan leher hijau bercahaya gelap dan khas. Kepala dan dada yang coklat berangan dibatasi oleh semacam kalung putih. Betina: berbintik coklat dengan garis mata gelap dan spekulum biru. Perbedaannya dengan betina: Itik ekor lonjong adalah ekor lebih pendek dan lebih tumpul. Iris coklat, paruh kuning, kaki jingga. Suaranya mirip suara itik domestik.

Penyebaran Global :          

Di daerah Holarktik, pada musim dingin bermigrasi ke selatan.

Penyebaran Lokal dan Status:  

Pengunjung musim dingin yang jarang ke Kalimantan bagian utara.

Referensi :

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


KOTA SALATIGA

Return to map

Burung Kidangan (Zoothera citrina)

Nama lain :   Punglor Merah, Anis Merah, Orange-headed Thrush

Famili : Turdidae.

Deskripsi :

Burung cacing berukuran sedang (21 cm), berkepala jingga. Burung dewasa: kepala, tengkuk dan tubuh bawah jingga terang, tungging putih, tubuh atas abu-abu kebiruan dengan garis putih di sayap atas. Jantan dan betina sama di wilayah kita. Burung muda bercoret dn bersisik di punggung. Iris coklat, paruh hitam, kaki coklat. Burung ini merupakan salah satu burung berkicau paling hebat di kawasan ini dengan nyanyian yang nyaring dan merdu. Suara tanda bahaya yang keras ”tirr-tirr-tirr” dan ”siiiit”  yang bernada tinggi.

Burung ini dikenal sebagai burung pemalu yang menyukai hutan gelap dan kemudian burung ini akan mengendap-endap di kelebatan penutupan semak di tanah. Mereka akan bernyanyi dari tenggeran pohon.

Penyebaran Global :          

Pakistan sampai Cina selatan, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:

Beberapa catatan dari Sumatera, migran berasal dari Asia. Di Kalimantan merupakan burung penetap pegunungan bawah yang jarang antara 1000-1500 m dpl, hanya diketahui dari Gunung Kinabalu dan Trus Madi. Di Jawa dan Bali merupakan burung yang kadang-kadang ditemukan di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai 1500 m dpl.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


WADUK GAJAH MUNGKUR


Return to map


KOTA SURAKARTA

Return to map

Punai Manten (Treron griseicauda)

Nama lain :   Punai Penganten

                       Grey-cheeked

Famili : Columbidae.

Deskripsi:

Berukuran sedang (25 cm), berwarna hijau kekuningan. Dahi abu-abu kebiruan, kulit tidak berbulu di sekitar mata berwarna hijau. Penutup sayap, bahu, dan bagian atas punggung hijau (betina) atau merah tua (jantan), bulu sayap primer kehitaman dengan tepi kuning terang, terdapat bercak jingga pada pundak. Tubuh bagian bawah dan punggung bagian bawah umumnya hijau, dengan bulu penutup ekor bawah berwarna coklat berangan (jantan). Bulu ekor hijau dengan garis terminal abu-abu muda, bulu penutup ekor bawah kemerahan. Ras yang jarang di Pulau Kangean : leher kekuningan dan bulu dada jantan tersapu keunguan. Iris merah, paruh kuning dengan sera hijau gelap (jantan) atau seluruhnya hijau (betina), kaki merah. Suaranya seperti berdentang perlahan dan dalam: ”haaaw-haw...” mirip Punai Lengguak.

Habitat :

Sering ditemukan di hutan dataran rendah dan kebun-kebun. Hidup berpasangan, tetapi berkumpul di atas pohon buah-buahan. Kadang-kadang tercatat ratusan burung makan bersama-sama di atas tajuk pohon. Kadang-kadang juga berbaur dengan jenis lain.

Penyebaran Global :          

Sulawesi, Jawa dan Bali. 

Penyebaran Lokal dan Status:

Cukup umum dijumpai di Jawa dan Bali sampai ketinggian 1200 m (di Jawa Timur sampai 2500 m dpl).

Referensi :

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


KOTA PEKALONGAN

Return to map

Perenjak Sayap Garis (Prinia familiaris)

Nama lain :   Perenjak Jawa, Bark –winged Prinia

Famili : Silviidae.

Deskripsi:

Berukuran agak besar (13 cm). Berwarna zaitun. Ekor panjang, dengan garis sayap putih khas serta ujung hitam-putih. Tubuh bagian atas coklat-zaitun, tenggorokan dan dada tengah putih, sisi dada dan sisi tubuh abu-abu, perut dan tungging kuning pucat. Iris coklat, paruh atas hitam, paruh bawah kekuningan, kaki merah jambu. Suaranya keras bernada tinggi: “cwuit..cwuit..cwuit..”, dengan suara tanda bahaya: ”hii..hii..hii..”.

Habitat :

Menghuni hutan mangrove dan habitai sekunder terbuka, terutama kebun dan taman. Ribut, suka berkelompok kecil. Berburu di sekitar permukaan tanah sampai puncak pohon.

Penyebaran Global :          

Endemik di Sumatera, Jawa dan Bali.

Penyebaran Lokal dan Status:

Di Sumatera tidak jarang sampai ketinggian 900 m dpl, walaupun tidak terlihat di Sumatera Utara. Sangat umum sampai ketinggian 1500 m dpl di Jawa dan Bali.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


KOTA SEMARANG

Return to map

Kuntul Perak (Egretta intermedia)

Nama lain : Burung Kuntul Perak

                      Intermediate Egret

Famili : Ardeidae.

Deskripsi :

Berukuran besar (69 cm), berbulu putih. Ukurannya diantara kuntul besar dan kuntul kecil. Ciri utamanya adalah paruh agak pendek dan leher berbentuk huruf S tanpa simpul. Pada waktu berbiak: ada berkas bulu putih panjang pada punggung dan dada, paruh dan paha merah jambu, kulit muka abu-abu. Iris berwarna kuning, dengan paruh kuning berujung coklat, tungkai dan kaki hitam. Bnatang ini sebenarnya tidak banyak bersuara, hanya bila terganggu bersuara “kroaa-kr” sambil lepas landas.

Binatang ini kadang-kadang hidup sendirian, tetapi biasanya dalam kelompok kecil, di sawah, pinggir danau, daerah berawa, hutan mangrove, dan gosong lumpur. Kelompok akan menyebar untuk mencari makan, tetapi berkumpul jika terganggu atau saat terbang pergi dan pulang dari tempat mencari makan. Bersarang beramai-ramai dalm koloni, bersama dengan burung air lain. Seperti Kuntul kerbau, kadang-kadang mencari makan berdekatan dengan ternak.

Penyebaran Global :          

Afrika, India, Asia Timur sampai Australia.

Penyebaran Lokal dan Status:

Ditemukan di seluruh Sunda Besar. Penetap umum di Sumatera (termasuk Nias dan Belitung) dan Jawa, di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dpl. Pengunjung tidak berbiak (kadang-kadang tinggal sepanjang tahun) di Kalimantan.             

Referensi :

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


KUDUS

Return to map

Cucak Ijo (Chloropsis sonneratti)

Nama lain : Cucak Hijau, Burung Daun Besar, Cica Daun Besar,

                      Greater Green Leafbird

Famili : Chloropseidae.

Deskripsi :

Berukuran besar (22 cm), berwarna hijau terang dengan tenggorokan hitam (jantan) atau kuning (betina). Setrip malar biru, terdapat bintik kebiruan pada bahu, tetapi tidak ada warna biru pada sayap. Betina mempunyai mata kuning. Burung yang belum dewasa mirip burung betina tetapi berwarna lebih kuning. Iris coklat gelap, paruh dan kaki abu-abu kebiruan. Suaranya seperti ledakan pendek yang terdiri dari siulan nyaring yang diselingi kicauan pendek.

Habitat :

Hidup di puncak-puncak pohon yang tinggi di hutan primer, hutan sekunder, dan hutan mangrove. Menyukai tajuk pohon berdaun lebar, biasanya di temukan sendirian atau berpasangan, kadang-kadang dalam kelompok campuran.

Penyebaran Global :          

Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:     

Penghuni tetap di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya), Kalimantan (termasuk Kepulauan Natuna), Jawa, dan Bali. Tersebar luas tetapi tidak umum terdapat di hutan dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1000 m.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


SUKOHARJO

Return to map

Srigunting Kelabu (Dicrurus leucophaeus)

Nama lain : Cecawi Rantau, Ashy Drongo

Famili : Dicruridae.

Deskripsi :      

Berukuran sedang (29 cm), berwarna abu-abu dengan ekor panjang menggarpu dalam. Ras bervariasi dalam kepucatan warna. Ras Kalimantan stigmatops mempunyai bercak keputih-putihan di sekitar mata. Iris jingga, paruh hitam abu-abu, kaki hitam. Bersuara seperti nyanyian keras jernih ”hiur-iur-celiu” atau ”wii-piiit,wiii-piit”. Mengeong dan meniru suara burung lain, diberitakan kadang-kadang bersuara pada malam hari.

Hidup berpasangan dan hinggap pada cabang terbuka atau tumbuhan merambat di tempat terbuka di hutan, menyambar serangga yang lewat, terbang naik mengejar ngengat atau menukik untuk menangkap mangsa yang terbang.

Penyebaran Global :          

Afganistan sampai Cina, Asia Tenggara, Palawan, Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:  

Di Sumatera (termasuk Mentawai dan Simeuleu), Kalimantan, Jawa, dan Bali merupakan burung yang umum terdapat di daerah berhutan terbuka, dan pinggir hutan, di perbukitan dan gunung dari 600-2500 m.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


KLATEN

Return to map

Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.)

Famili: Cichlidae

Deskripsi:

Ikan nila ini dapat mencapai panjang 400 mm.  Ikan nila mempunyai garis nyata berwarna pada badan dan ekor serta sirip punggung dan sirip dubur. Ikan Nila Merah mencapai dewasa kelamin pada umur 5 - 6 bulan dengan berat badan mencapai 400-600 gr. Ikan Nila jantan bisa dibedakan dari jenis betina berdasarkan sifat kelamin sekunder, yang mulai terbentuk setelah ikan berumur 28 hari.  Ikan Nila Merah betina mulai siap memijah pada umur 4 bulan (berat badan 600 gr), sepanjang tahun setiap 0,5 sampai 1,5 bulan, ikan Nila Merah bersifat poligami. Mampu menghasilkan telur sekitar 340 butir pada setiap betina. Sebenarnya ikan ini bersifat herbivora, tetapi bayi ikan nila bisa bersifat omnivora.

Ekologi:

Persyaratan kondisi lingkungan yang ideal untuk menopang kehidupan optimum bagi ikan Nila Merah adalah kandungan oksigen 3 - 5 ppm, kisaran pH 6,5 - 8,5, kisaran suhu 25 - 28°C dengan perbedaan fluktuasi suhu harian tidak lebih dari 15°C, kadar garam (salinitas) 0 - 10%. Oreochromis niloticus  diduga berasal dari Africa.

Referensi:

http://www.aquatext.com/index.html

Agribusiness Online.  2001.  Pemeliharaan  Ikan  Nila  Merah  Di  Danau  Toba.  Agribusiness Online - Indonesian Agribusiness on the Net.  http://suharjawanasuria.tripod.com/index.htm


Return to map


BATANG

Return to map

Lebah Madu (Apis mellifera)

Famili: Apiidae

Deskripsi:

Merupakan salah satu kelompok serangga sosial yang siklus hidupnya mengalami metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago). Memiliki dua pasang sayap transparan. Terdapat tiga kasta dalam masyarakat lebah: Ratu, lebah pekerja yang umumnya adalah betina, dan lebah jantan yang bertugas untuk mengawini sang ratu. Ratu berukuran paling besar dengan lama hidup sekitar 2 tahun, umumnya betina, menghasilkan sekitar 1500 per hari. Ratu bertugas untuk menghasilkan keturunan, dan tidak melakukan tugas lainnya, serta memiliki umur yang panjang, dan berukuran paling besar (sekitar 2,5 cm).  Lebah pekerja berjumlah paling banyak, berukuran paling kecil (kurang dari 1,25 cm), berumur sekitar 40 hari, merupakan betina yang steril, dan pada bagian tungkai belakang dilengkapi dengan rambut-rambut yang berfungsi sebagai tempat menempelnya tepung sari (bakul sari). Lebah bekerja bertugas untuk mencari nektar, merawat anak-anak lebah, dan terdapat 5-10 lebah pekerja yang bertugas merawat sang ratu. Lebah pejantan berjumlah sekitar 200-an ekor, berukuran medium. Setiap kelompok lebah hanya terdapat satu ratu, dan jika terdapat 2 ratu, maka akan terjadi pertarungan atau ratu lainnya akan pergi dan membentuk koloni baru. 

Ekologi:

Lebah madu ini memainkan peranan yang sangat penting dalam fertilisasi tumbuhan. Lebah madu berasal dari Afrika tropis dan menyebar dari Afrika Selatan ke Eropa Utara dan Timur sampai dengan India dan China.

Kegunaan:

Lebah menghasilkan madu dan royal jeli yang sangat berguna untuk kesehatan.  Konon di wilayah Jawa Tengah, anak-anak lebah ini dapat diolah menjadi makanan yang lezat.

Referensi:

Otani T. 1996. Lebah Madu  [Terjemahan]. Jakarta: Elex Media Komputindo

Koning, Ross E. "Honeybee Biology". Plant Physiology Website. 1994. http://plantphys.info/plants_human/bees/bees.html


Return to map


KARANGANYAR

Return to map

Burung Jalak Gading (Acridotheres javanicus)

Nama lain :   Kerak kerbau.          

                       Javan Myna

Famili : Sturnidae.

Deskripsi :      

Berukuran sedang  (25cm) berwarna gelap. Bulu abu-abu tua (hampir hitam), kecuali bercak putih pada bulu primer (terlihat mencolok sewaktu terbang) serta tunggir dan ujung ekor putih. Jambul pendek. Perbedaannya dengan kerak jambul : lebar warna putih pada ujung ekor, paruh kuning dan tunggir putih. Remaja : lebih coklat. Iris jingga, paruh dan kaki kuning. Suaranya berupa kicauan parau dengan nada berkeriut : “ciriktetowi“, selain itu juga ada berbagai siulan lain dan nada berderik. ”Criuk, criuk” yang khas sewaktu terbang. Kadang-kadang meniru suara burung lain. Hidup dalam kelompok kecil atau besar. Sebagian besar mencari makan di atas tanah, lapangan rumput, dan sawah. Sering hinggap di atas atau di dekat sapi dan kerbau, menangkap serangga yang terhalau atau justru tertarik oleh ternak tersebut.

Penyebaran Global :          

Asia Timur, Asia Tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia), Sulawesi, Sumatera (introduksi), Jawa dan Bali.

Penyebaran Lokal dan Status:  

Secara lokal umum terdapat di Sumatera, mungkin terbentuk dari burung peliharaan yang lari dari daerah Medan, tetapi sekarang tersebar di seluruh Sumatera. Di Jawa dan Bali, jalak yang paling umum di lahan pertanian dan kota, sampai ketinggian 1500 m.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


PURBALINGGA

Return to map

Jalak Suren (Sturnus contra)

Nama lain  :  Jalak Suren,

                       Asian Pied Starling

Famili : Sturnidae.

Deskripsi :

Berukuran sedang (24 cm), berwarna hitam dan putih. Dahi, pipi, garis sayap, tunggir dan perut putih. Dada, tenggorokan, dan tubuh bagian atas hitam (coklat pada remaja). Iris abu-abu, kulit tanpa bulu disekitar mata berwarna jingga, paruh merah dengan ujung putih, kaki kuning. Suaranya seperti teriakan yang ribut, sumbang dan riang.

Habitat :     

Hidup dalam kelompok kecil, menghuni daerah terbuka. Kebanyakan mencari makan di atas tanah, yaitu cacing dan satwa kecil lainnya. Bergabung dalam kelompok ketika beristirahat pada malam hari.

Penyebaran Global :          

India, China Barat Daya, Asia Tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia), Sumatera, Jawa dan Bali.

Penyebaran Lokal dan Status:

Di Sumatera selatan, Jawa dan Bali sekarang sudah jarang ditemukan di lahan pertanian dataran rendah karena penangkapan yang berlebihan. Catatan di Kalimantan diduga menunjukkan burung peliharaan yang lepas dari sangkarnya.

 Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


TEMANGGUNG

Return to map

Ayam Kedu (Gallus domesticus)

Nama lain :   Ayam Pelung, Ciparage, Wereng, Kendal, Kedu , Gaok, Paser, Nunukan, Tukong, Kukuak Balenggek, Haruai.

Famili : Phasianidae.

Deskripsi :

Gallus domesticus merupakan ayam yang tersebar luas di dunia, hidup di permukaan tanah. Dan merupakan ayam peliharaan hasil domestikasi dari jenis Gallus gallus. Sayap pendek membulat, ekor umumnya panjang. Jantan biasanya sangat indah, sedangkan betina suram (untuk menyamar). Bersarang di tanah. Pada yang jantan mempunyai jengger, gelambir dan taji di kakinya. Terbang seperti ragu-ragu dan biasanya hanya untuk jarak pendek, tetapi dapat berlari dengan baik. Iris merah, paruh warna tanduk sampai abu-abu putih susu, kaki abu-abu kebiruan. Mempunyai suara yang bersih dan nyaring.

Penyebaran :

Himalaya, Cina Selatan, Asia Tenggara, Sumatera dan Jawa.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


SRAGEN

Return to map

Burung Branjangan (Mirafra jacanica)

Nama lain :   Branjangan Jawa,

                        Australian Lark

Famili : Alaudidae.

Deskripsi :      

Berukuran kecil (14 cm), berwarna coklat kemerahan, berbintik hitam rapat. Hidup di atas tanah. Tubuh bagian bawah kuning kebo burik hitam, bulu ekor luar hitam. Sepintas seperti burung apung, tetapi paruh lebih tebal serta ekor dan tungkai lebih pendek. Perbedaannya dengan Branjangan langit kecil adalah sayap merah karat. Iris coklat gelap, paruh atas coklat, paruh bawah kekuningan kaki kemerahjambuan dengan taji sangat panjang. Suaranya berupa getaran data mendengking yang lembut dan jelas. ”Cirrap” yang terdengar pada saat dirinya terancam. Hidup sendirian atau dalam kelompok yang tidak rapat, mengunjungi daerah terbuka yang berumput pendek dan padang yang berjerami. Biasanya berjalan di tanah atau terbang perlahan menggelepar bergelombang. Bernyanyi di atas tanah atau di udara, selama terbang atau melayang pada saat turun secra tegak lurus. Kadang-kadang berbunyi pada malam hari. Beristirahat pada kawat telepon atau di semak-semak. Sering mandi debu.

Penyebaran Global :          

Afrika, India, China Tenggara, Asia Tenggara, Filipina, Kalimantan Selatan, Jawa, Bali dan sepanjang Indonesia bagian Timur sampai Pulau Irian dan Australia.

Penyebaran Lokal dan Status:

Di Kalimantan hanya diketahui dari Banjarmasin. Cukup umum terdapat di daerah terbuka sampai ketinggian 800 m di Jawa dan Bali.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


PEKALONGAN

Return to map

Kutilang Emas (Pycnonotus melanicterus)

Nama lain :   Cucak Kuning, Merbah Jambul Hitam. Black-crested Bulbul

Famili : Pycnonotidae.

Deskripsi :

Berukuran agak besar (18 cm). berwarna kekuningan dengan kepala dan jambul hitam. Tenggorokan ras Sumatera dan Jawa merah terang, tenggorokan ras Kalimantan kuning. Tubuh bagian atas hijau kecoklatan, tubuh bagian bawah kuning. Iris kemerahan, paruh dan kaki hitam. Suaranya ribut, nyaring ”hii-tii-hii-tii-wiit” dengan nada terakhir turun. Agak pemalu, menyukai kerimbunan daun dan pepohonan tinggi di pinggir hutan dan hutan sekunder. Kadang-kadang menyergap serangga terbang, tetapi biasanya rajin mencari buah-buahan. Menegakkan jambul bila panas hati.

Penyebaran Global :          

India, China Selatan, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:

Cukup umum di hutan dataran rendah dan perbukitan di Sumatera sampai ketinggian 1200 m. Penetap yang umum di gunung-gunung di Kalimantan, ditemukan dari Gunung Kinabalu sampai Kayan hulu dan Lian Kubung. Di Jawa, lebih umum terdapat di Jawa Barat dan Jawa bagian Selatan. Di Bali jarang terlihat.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


DEMAK

Return to map

Blekek (Gallinago gallinago)

Nama lain :   Berkik Ekor Kipas, Berkek Ekor Kipas, Common Snipe

Famili : Scolopacidae.

Deskripsi :

Berukuran sedang (27 cm), bertubuh gemuk. Kaki pendek, paruh sangat panjang dan lurus. Kepala kuning tua dengan setrip gelap di atas, di bawah, dan melalui mata. Bagian atas coklat gelap, bergaris putih dan hitam; bagian bawah kekuningtuaan, bercoret coklat. Sulit dibedakan dengan berkik lain. Perbedaannya: ada kesan pinggir putih pada bulu sekunder, terbang lebih cepat dan berkelak-kelok. Iris dan paruh coklat, kaki warna zaitun. Suaranya seperti tangisan keras ”snaip...snaip...”, nadanya meninggi ketika terusir.

Habitat :     

Ditemukan di paya-paya dan sawah. Umumnya selalu berada di balik buluh dan rerumputan. Jika terganggu, melompat kemudian terbang berkelok-kelok tidak tentu arah dan mengeluarkan suara tanda bahaya.

Penyebaran Global :          

Berbiak di daerah Palaertik, ke selatan pada musim dingin sampai ke Filipina dan Asia Tenggara.

Penyebaran Lokal dan Status:

Pengunjung musim dingin yang jarang ke Sunda Besar. Diragukan tercatat di Sumatera, tetapi mungkin karena luput dari pengamatan.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


TEGAL

Return to map

Jalak Suren (Sturnus contra)

Nama lain :  Jalak Suren.

                       Asian Pied Starling

Famili : Sturnidae.

Deskripsi:

Berukuran sedang (24 cm), berwarna hitam dan putih. Dahi, pipi, garis sayap, tunggir dan perut putih. Dada, tenggorokan, dan tubuh bagian atas hitam (coklat pada remaja). Iris abu-abu, kulit tanpa bulu disekitar mata berwarna jingga, paruh merah dengan ujung putih, kaki kuning. Suaranya menyerupai teriakan ribut, sumbang dan riang. Hidup dalam kelompok kecil, menghuni daerah terbuka. Kebanyakan mencari makan di atas tanah, yaitu cacing dan satwa kecil lainnya. Bergabung dalam kelompok ketika beristirahat pada malam hari.

Penyebaran Global :          

India, China Barat Daya, Asia Tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia), Sumatera, Jawa dan Bali.

Penyebaran Lokal dan Status:     

 Di Sumatera selatan, Jawa dan Bali sekarang sudah jarang ditemukan di lahan pertanian dataran rendah karena penangkapan yang berlebihan. Catatan di Kalimantan diduga menunjukkan burung peliharaan yang lepas dari sangkarnya.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


WONOSOBO

Return to map

Domba Klowoh (Ovis sp                                                                                                                                                                 )Domba

Famili: Bovidae

Deskripsi :

 

Domba merupakan salah satu dari delapan mamalia yang menghasilkan wool.   Domba ini diduga merupakan keturunan domba liar dari dari Asia Barat Daya yang hidup berkelompok. Domba ini umumnya pendek dan gemuk dibandingkan domba yang lain, dan memiliki tanduk yang berbeda dibandingkan domba lain.  Domba ini memiliki kelenjar bau pada bagian muka dan kaki belakang. Kelenjar ini tidak begitu diperlukan untuk komunikasi antar domba, tetapi sangat penting untuk penanda seksual. Jantan dapat mencium bau betina yang sedang subur dan siap untuk kawin. Domba ini memiliki empat ruangan dalam perutnya yang sangat penting untuk pencernaan.

 

Kegunaan:

 

Domba ini sangat penting terutama untuk diambil wool, susu, dan diambil dagingnya.

Referensi :

www.wikipedia.org


Return to map


KENDAL

Return to map

Ayam Kendal (Gallus domesticus)

Nama lain :   Ayam Pelung, Ciparage, Wereng, Kendal, Kedu , Gaok, Paser, Nunukan, Tukong, Kukuak Balenggek, Haruai.

Famili : Phasianidae.

Deskripsi :

Gallus domesticus merupakan ayam yang tersebar luas di dunia, hidup di permukaan tanah. Dan merupakan ayam peliharaan hasil domestikasi dari jenis Gallus gallus. Sayap pendek membulat, ekor umumnya panjang. Jantan biasanya sangat indah, sedangkan betina suram (untuk menyamar). Bersarang di tanah. Pada yang jantan mempunyai jengger, gelambir dan taji di kakinya. Terbang seperti ragu-ragu dan biasanya hanya untuk jarak pendek, tetapi dapat berlari dengan baik. Iris merah, paruh warna tanduk sampai abu-abu putih susu, kaki abu-abu kebiruan. Mempunyai suara yang bersih dan nyaring.

Penyebaran :

Himalaya, Cina Selatan, Asia Tenggara, Sumatera dan Jawa.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


SEMARANG

Return to map

Burung Cipoh (Aegithina tiphia)

Nama lain : Cipoh kacat, Burung Kunyit Kacat

                      Common lora

Famili : Chloropseidae.

Deskripsi :

Berukuran kecil (14cm) berwarna hijau dan kuning dengan dua garis putih mencolok pada sayap. Tubuh bagian atas hijau zaitun, sayap kehitaman, tetapi sisi bulu putih, lingkar mata kuning. Tubuh bagian bawah kuning. Ras-ras pada masing-masing pulau bervariasi warna hijaunya. Perbedaannya dengan Cipoh jantung yaitu kekang dan dada berwarna kuning. Iris putih keabu-abuan, paruh hitam kebiruan, kaki hitam kebiruan. Suaranya menyerupai suara panggilan yang monoton dan berirama, atau siulan “ciiiii-pow atau ciiipow,ciiipow“, akhiran ”pow” yang meledak seperti suara pecut.

Habitat:

Menghuni taman, hutan mangrove, hutan terbuka, dan hutan sekunder. Umumnya sendirian atau berpasangan, berlompatan di cabang-cabang pohon kecil, tempat burung ini bersembunyi dengan baik.

Penyebaran Global :          

India, China Barat Daya, Asia Tenggara, Palawan, Semenanjung Malaysia, dan Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:  

Penghuni tetap di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya). Kalimantan (termasuk pulau-pulau di Kalimantan bagian utara dan Maratua), Jawa, Bali. Tersebar luas dan umum terdapat di dataran rendah pesisir sampai ketinggian 1000 m dpl.

Referensi :

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


REMBANG

Return to map

Kijang (Muntiacus muntjak)

Nama lain :   Kijang Muncak (Muntiacus muntjak),

                        Red muntjac/ Common Barking Deer

Famili : Cervidae.

Deskripsi :

Tubuh bagian atas tengguli, agak lebih gelap sepanjang garis punggung; bagian bawah keputih-putihan, sering berulas abu-abu. Ekor coklat tua di atas, putih di bawah. Jantan berangga kasar, terpasang semacam paku kecil di dekat pangkal dan melengkung tajam di dekat ujungnya. Pedisel tebal dan lurus, dengan sendi di mana rangga bertaut. Anakan biasanya berbintik-bintik putih. Jantan dewasa dan betina menguak pendek dan keras (mungkin tidak dapat dibedakan dengan Kijang kuning M.atherodes). KT 98-111 cm; Tinggi bahu lebih dari 50 cm. Panjang rangga 73-130. Panjang Pedisel 69-149.

Ekologi dan Habitat :

Mungkin mirip dengan kijang kuning; perbedaan tidak diketahui.

Penyebaran :

Sri Lanka, India sampai Cina bagian selatan, Taiwan, Asia Tenggara, Sumatera, Jawa dan beberapa pulau yang berdekatan.

P. Kalimantan: M.m. pleiharicus tercatat dari sebagian besar P. Kalimantan, mjoronguti Pegunungan Crocker dan Poring di Sabah, tetapi tampaknya tidak ada di Sabah bagian Timur di sebelah utara S. Kalabakan. Tercatat pada ketinggian di atas 1000 m di Usun Apau, Serawak.

Referensi:

Payne, Junaidi. dkk.  Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam.     Jakarta:  WCS Indonesia Progme.


Return to map


JEPARA

Return to map

Elang Laut Dada Putih (Haliaeetus leucogaster)

Nama lain :   Elang Laut Perut Putih, Lang Siput,

                        White-bellied Fish-eagle

Famili : Accipitridae.

Deskripsi :

Berukuran besar (70 cm). Berwarna putih, abu-abu dan hitam. Dewasa: kepala, leher dan bagian bawah putih; sayap, punggung dan ekor abu-abu, bulu primer hitam. Remaja: warna putih pada dewasa diganti dengan warna coklat pucat dan warna abu-abu diganti warna coklat gelap. Bentuk ekor yang menyerupai baji merupakan ciri khasnya. Iris coklat, paruh dan sera abu-abu, tungkai tanpa bulu dan kaki abu-abu coklat. Suaranya berupa teriakan nyaring seperti rangkong ”ah...ah...ah...”. Elang yang indah ini sering terlihat bertengger dengan sangat tegak pada pohon di pinggir perairan, di daerah karang, atau di atas bagan-bagan. Melayang-layang dan meluncur dengan indah dan anggun, dengan sayap terangkat membentuk huruf V. Terbang dengan kepakan sayap yang pelan, tetapi kuat. Menangkap ikan pada permukaan laut dengan tukikan yang menakjubkan, tubuh hampir-hampir tidak basah saat ikan ditangkap dengan cakarnya. Membangun sarang yang kokoh pada pohon tinggi, terbuat dari cabang dan ranting. Sarang digunakan selama bertahun-tahun.

Penyebaran Global :          

India, Asia Tenggara, Filipina, Indonesia sampai Australia.

Penyebaran Lokal dan Status:

Penetap yang umum di sekitar daerah pantai, danau besar, dan sungai dekat pantai, di seluruh kawasan Sunda Besar.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


PURWOREJO

Return to map

Kambing PE Ras Kaligesing (Capra sp.)

Nama lain :   Kambing/ kambing ternak,

                        Domestic Goat.

Famili : Bovidae.

Deskripsi :

Kambing jenis ini mempunyai tinggi bahu sampai 50 cm. Pola warna bervariasi, tetapi sebagian besar sering berpola cokelat dan putih yang tidak merata. Tanduk (jika ada) melengkung ke belakang.

Ekologi dan Habitat :

Makanannya mjoronguti berbagai dedaunan. Sering terlihat di pinggir-pinggir jalan.

Penyebaran :

Tersebar di seluruh dunia.

Referensi:

Payne, Junaidi. dkk.  Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam.     Jakarta:  WCS Indonesia Progme.


Return to map


BOYOLALI

Return to map

                                                                                                                                                                                                                    Sapi Lokal (Bos sp)

Nama lokal : Sapi Perah, Sapi Aduan

Famili : Bovidae.

Deskripsi :

Sapi merupakan suatu jenis binatang memamah biak. Pakan utamanya tumbuhan, sehingga digolongkan sebagai hewan herbivora. Kukunya genap. Hewan jantan umumnya mempunyai tanduk yang berongga. Bobot badannya mulai dari 450-900 kg.

Penyebaran :

Tersebar luas mjoronguti Nepal, Assam, India, Afganistan, Pakistan Bhutan sampai Mongolia dan Uni Soviet. Myanmar, Thailand sampai Indocina sampai Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Jawa.

Manfaat :

Selain daging dan susu yang dapat dikonsumsi, sapi juga digunakan untuk bekerja untuk membantu manusia (sapi tipe pekerja) dan digunakan sebagai sapi aduan (karapan sapi).

Referensi :

Setiawan B., dkk.  1989.  Ensiklopedi Nasional Indonesia Volume 15.  Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.


Return to map


PEMALANG

Return to map

Burung Kucica/Kacer (Copsychus saularis)

Nama lain : Kacer, Kucica Kampung, Murai, Murai Camping

                      Magpie Robin

Famili : Turdidae.

Deskripsi :

Burung cacing berlagak berukuran sedang (20 cm), hitam dan putih. Jantan: kepala, dada, dan punggung hitam biru bersinar. Ras Sumatera, Jawa Barat dan Kalimantan Barat: sayap dan bulu ekor tengah hitam, bulu ekor luar dan setrip yang melintang di penutup sayap putih; perut dan tungging putih. Jawa Timur, Kalimantan Bagian Utara,dan Timur: putih dan tungging hitam. Betina seperti jantan tetapi berwarna abu-abu buram bukan hitam. Burung remaja mirip betina tetapi berbintik-bintik. Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam. Suaranya bagaikan nyanyian bergairah yang bervariasi, termasuk peniruan suara burung lain tetapi tidak semeriah suara Kucica hutan: ”pwiiiiit:” yang meninggi, berselang dengan ”krrrk” yang parau.

Habitat :

Burung yang terkenal di pekarangan, desa, hutan sekunder, hutan terbuka, dan hutan mangrove. Terbang menarik perhatian, dan bertengger secara mencolok untuk bernyanyi atau bergaya. Mencari makan kebanyakan di tanah di mana burung ini terus-menerus menurunkan dan membuka ekornya sebelum menutup dan menegakkannya kembali secara menyentak.

Penyebaran :

India, China Selatan, Filipina, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar. Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di sekitarnya) dan Kalimantan burung ini umum di dataran rendah sampai ketinggian 1500 m dpl. Di Jawa dan Bali merupakan burung yang cukup umum di dataran rendah tetapi mulai jarang karena penangkapan berlebih-lebihan.

 Referensi :

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


MAGELANG

Return to map

Itik Kalung (Anas platyrhinchos)

Nama lain  : Itik Kalung, Itik Tegal, Itik Mojosari, Itik Alabio, Mallard.

Famili : Anatidae.

Deskripsi:

Berukuran sedang (58cm), bentuk liar dari itik domestik. Jantan: kepala dan leher hijau bercahaya gelap dan khas. Kepala dan dada yang coklat berangan dibatasi oleh semacam kalung putih. Betina: berbintik coklat dengan garis mata gelap dan spekulum biru. Perbedaannya dengan betina: Itik ekor lonjong adalah ekor lebih pendek dan lebih tumpul. Iris coklat, paruh kuning, kaki jingga. Suaranya mirip suara itik domestik.

Penyebaran Global :          

Di daerah Holarktik, pada musim dingin bermigrasi ke selatan.

Penyebaran Lokal dan Status

Pengunjung musim dingin yang jarang ke Kalimantan bagian utara.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


BANJARNEGARA

Return to map

Burung Pelatuk Bawang (Dinopium javanense)

Nama lain : Pelatuk Besi, Belatok Pinang Muda, Common Goldenback

Famili : Indicatoridae.

Deskripsi :

Berukuran sedang (30 cm), berwarna-warni. Muka bersetrip hitam dan putih. Mahkota dan jambul jantan: merah, mahkota betina: hitam bercoretkan putih. Punggung dan tunggir merah; mantel dan penutup sayap keemasan. Dada terlihat berbelang, berbulu putih dengan warna putih pada pinggir. Perbedaannya dengan pelatuk tungging-emas: hanya satu setrip malar hitam lebar, tidak ada bercak putih pada leher belakang, hanya satu jari belakang. Suara burung ini seperti getaran panjang keras: ”caarrrr” antar pasangan. Sewaktu terbang : ”chiii,chiii” lembut atau ”kiiik-kiiik-kiiik...” keras.

Hidup berpasangan, saling memanggil secara teratur. Lebih menyukai hutan sekunder, hutan terbuka, hutan mangrove, perkebunan, dan pekarangan.

Penyebaran Global :          

India, Asia Tenggara, Filipina, Kalimantan, Sumatera, Kep. Riau, Jawa dan Bali.

Penyebaran Lokal dan Status:

Cukup umum terdapat di hutan dataran rendah yang agak terbuka dan lahan pertanian, sampai ketinggian 1000 m dpl.      

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


KEBUMEN

Return to map

Burung Walet Putih (Aerodramus fuciphagus)

Nama lain :   Burung Walet Putih,

                        Edible-nest Swiftlet

Famili : Apodidae.

Deskripsi

Walet merupakan kelompok yang sulit diidentifikasi, karena ukurannya kecil dan tidak dapat dibedakan secara jelas. Beberapa jenis tubuhnya seramping Walet Palem Asia, tetapi burung kecil ini, yang terkecil diantara kerabatnya, segera dapat dikenali dari perutnya yang putih dan tubuh bagian atas yang hijau mengkilap, meskipun secara keseluruhan burung ini kelihatannya hitam. Para pekerja di gedung tinggi di Jakarta sering menjumpainya melayang mengikuti arus udara, berburu serangga di luar jendela.

Habitat :  

Burung ini berbiak di umumnya berbiak di gua-gua, gorong-gorong, jembatan dan gedung, jarang di rumah dan menggunakan suara krincing untuk mencari lokasi gema di tempat gelap, yaitu semacam radar burung.

Penyebaran :

Di seluruh Jawa, Bali dan Lombok. Jenis ini atau jenis lain yang serupa tersebar luas di Asia Tenggara. Pusat utama sarang burung walet di Jawa adalah Gresik, Rembang, Karangbolong dan Kebumen.

Manfaat :

Burung ini menghasilkan sarang yang dapat dimakan, yaitu Walet Sarang Putih yang menghasilkan sarang putih yang hampir seluruhnya terbuat dari air liur.

Referensi:

Holmes, Derek.  1999.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANG.  Burung burung di Jawa dan Bali.  Bogor: Puslitbang Biologi-LIPI dan Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


BANYUMAS

Return to map

Burung Trocokan (Pycnonotus goiavier)

Nama lain :   Merbah Kapur, Merbah Cerukcuk, Yellow-vented Bulbul

Famili :  Pycnonoidae.

Deskripsi :

Berukuran sedang (20 cm). Berwarna coklat dan putih dengan tunggir kuning khas. Mahkota coklat gelap, alis putih, kekang hitam. Tubuh bagian atas coklat. Tenggorokan, dada dan perut putih dengan coretan coklat pucat pada sisi lambung. Iris coklat, paruh hitam dan kaki abu-abu merah jambu. Suaranya berulang ”jok-jok-jok”. Kebiasaannya membentuk kelompok, sering berbaur dengan burung cucak-cucakan lain. Berkumpul ramai-ramai di tempat bertengger. Menyukai habitat terbuka, tumbuhan sekunder, tepi jalan, dan kebun. Menghabiskan waktu lebih lama untuk makan di atas tanah daripada cucak-cucakan jenis lain.

Penyebaran Global :          

Asia Tenggara, Filipina, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar dan Lombok. Di introduksi ke Sulawesi.

Penyebaran Lokal dan Status:     

Umum terdapat sampai ketinggian sekitar 1500 m. Di Sumatera (termasuk pulau-pulau di bagian timur), Kalimantan (termasuk Batambangan dan Maratua), Jawa dan Bali.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


PATI

Return to map

Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Nama lain : Ikan salem haring, Bangos.

Famili : Chanidae.

Deskripsi :

Ikan berwarna perak, yang agak menyerupai ikan haring. Ikan ini bertubuh buntak dengan sisik-sisik kecil, keperakan dan ekor besar bercabang. Sirip punggung terletak pada titik tengah tubuh dan mulutnya tak bergigi. Ikan ini tumbuh sampai 1,8 m.

Ekologi :

Populer diantara para olahragawan memancing, merupakan makanan paling penting di Asia tenggara dan dipelihara secara intensif di kolau air payau. Bandeng terutama makan ganggang laut sehingga tidak memerlukan makanan tambahan, bahkan dapat merubah tumbuh-tumbuhan mikroskopis menjadi protein yang dapat dimakan melalui satu mata rantai saja. Karena hanya satu energi yang hilang pada setiap mata rantai makanannya, maka ikan ini jelas merupakan hewan paling ekonomis untuk diternakan. Ususnya panjang seperti pada kebanyakan herbivora dan terdapat suatu empedal besar yang berkembang baik. Dua minggu sesudah menetas, anaknya bermigrasi ke dekat pantai, sekitar satu bualan dan sejumlah besar ditangkap sebagai komoditi komersial di daerah daerah tertentu. Pada yang dewasa dagingnya berwarna muda dan sangat lezat meskipun memiliki banyak duri-duri kecil.

Habitat :

Ikan ini ditemukan di air asin dan muara sungai di seluruh daerah tropis dan subtropis.

Penyebaran :

Tersebar luas di seluruh perairan Indo-pasifik.

Referensi:

Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna (Ikan) Jakarta: Ichtar Baru Van Hoeve, 1992.


Return to map


BREBES

Return to map

Kebo Ireng (Buballus bubalis)

Nama Lain : Kerbau Lumpur.

Deskripsi :

Kulitnya berwarna hitam keabu-abuan. Tanduknya panjang dan besar, serta berpenampang segi tiga. Rambutnya jarang. Kakinya pendek dengan kuku yang besar. Panjang tubuhnya, tidak termasuk ekor, rata-rata 1,3 m. Lingkaran dadanya 1,9 m. Bobot rata-ratanya 377,9 kg. Kerbau tipe ini sangat kuat, sehingga mampu menarik beban seberat 1-1,5 ton dengan kecepatan 3 km/jam, serta tahan bekerja terus menerus selama empat jam. Kerbau di Sumatera Selatan, termasuk kerbau air, karena mampu menyelam di rawa-rawa dan mencari makanan di dasar sampai lama. Kerbau mempunyai tabiat suka berkubang di lumpur.

Penyebaran :

Kerbau lumpur banyak tersebar di Sumbawa, Jawa, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan.

Manfaat :

Dagingnya dapat dimakan. Dibandingkan dengan sapi, kandungan protein kerbau lebih tinggi yaitu 20,2% berbanding 19,2%. Kulit kerbau sering digunakan sebagai bahan industri kulit, sedangkan tulang belulangnya untuk bahan lem dan makanan unggas.

Referensi:

Setiawan B., dkk.  1989.  Ensiklopedi Nasional Indonesia Volume 8.  Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka


Return to map


WONOGIRI

Return to map

Jalak Uren Putih (Sturnus melanopterus)

Nama lain  :              Jalak Putih.

                       Black-winged Starling

Famili : Sturnidae.

Deskripsi :

Berukuran sedang (23 cm), berwarna hitam dn putih. Dewasa: bulu seluruhnya putih, kecuali sayap dan ekor hitam. Burung muda: kepala, leher, punggung dan penutup sayap abu-abu. Warna punggung dan penutup sayap: putih pada ras Jawa dan Madura (melanopterus), abu-abu gelap pada ras Pulau Bali (tertius) dan ras peralihan di ujung Jawa Timur (tricolor). Kulit tanpa bulu di sekitar mata berwarna kuning. Iris coklat gelap, paruh kekuningan dan kaki kuning. Siulannya keras, serak sebagai alarm: ”kwr’ik” atau ”cr’k-t’ik,cr’k-t’ik”. Juga kicauan khas yang berbunyi seperti ”wriit,tr’k,ciikciik-wit-c’kc’kc’kc’k”.

Hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Mencari makan di tanah terbuka, seperti lapangan rumput. Beristirahat di pepohonan atau kadang-kadang di rumah-rumah di kota.

Penyebaran Global :          

Endemik di Jawa, Bali dan Lombok. Diintroduksi ke Pulau St. John, Singapura.

Penyebaran Lokal dan Status:

Makin jarang terdapat di dataran rendah, termasuk kota dan pekarangan, terutama di Jawa Timur dan Bali.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


BLORA

Return to map

Burung Betet (Psittacula alexandri)

Nama lain :   Betet Biasa,

                        Red-breasted Parakeet

Famili : Psittacidae.

Deskripsi:          

Berukuran sedang (34 cm). Berwarna-warni dengan dada merah jambu khas. Dewasa: mahkota dan pipi abu-abu ungu dengan kekang hitam, tengkuk, punggung, sayap dan ekor hijau. Kumis hitam jelas, dada merah jambu, paha dan perut hijau pucat. Burung muda: kepala coklat-kuning tua, kumis hitam terlihat kurang jelas. Iris kuning, paruh merah, kaki abu-abu. Suaranya berupa seruan tajam berulang-ulang: ”kekekek” (terutama pada burung muda) dan teriakan parau seperti terompet. Binatang ini hidup bersama-sama. Terbang, beristirahat dan bersarang dalam kelompok. Terbang bising dan mencolok atau terbang rendah dan cepat melalui tempat terbuka. Hinggap dengan kepakan sayap yang ribut, untuk makan atau beristirahat sambil berteriak-teriak.

Penyebaran Global :          

India, China Selatan, Asia Tenggara, (kecuali Semenanjung Malaysia), dan Sunda Besar.

Penyebaran Lokal dan Status:     

Di Sumatera tidak tercatat, meskipun ada catatan ras-ras endemik dari Pulau Simeleu, Kepulauan Banyak, dan Nias. Masih sering terlihat di pesisir Kalimantan Tenggara, terutama di Barito. Dulu umum terdapat di Jawa dan Bali, tetapi kini jumlahnya berkurang karena diperdagangkan untuk peliharaan. Sekarang hanya terdapat di daerah-daerah hutan yang lebih terpencil, kecuali koloni besar yang liar di sekitar Kebun Binatang Ragunan, Jakarta.

Referensi:

Mackinnon, John,  Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994.  LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).  Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Progme.


Return to map


GROBOGAN

Return to map

Puter Geni (Streptopelia risoria)

Nama lain:

Famili:

Deskripsi:

Burung puter ini jika telah dewasa panjangnya sekitar 25-30 cm, dan rentang sayapnya 50 cm, dengan masa tubuhnya sekitar 160g. Umumnya puter ini akan berwarna keabu-abuan pada bagian punggungnya, dengan totol abu-abu yang lebih gelap. Kepalanya putih keabu-abuan dan terdapat semacam garis yang  melingkari leher berwarna kehitaman. Matanya berwarna merah gelap. Burung ini monogami dengan banyak anak setiap tahunnya. Sekali masa peneluran ada 1-2 telur berwarna putih. Sarangnya terbuat dari dari ranting-ranting, serat yang dibangun di atas pohon atau bangunan. Telur akan menetas dalam 13-14 hari dengan bantuan pengeraman kedua induknya. Burung muda yang tumbuh akan dapat terbang dan matang secara seksual setelah 5-7 bulan. Suaranya "kooeek-KRRRROOOOO(aw)" and a "heh-heh-heh". Burung puter ini dapat bertahan hidup maksimum 20 hari. Kemampuan terbangnya 38-50 mph.  Burung ini hidup dengan memakan biji-bijian, dan buah. Burung puter ini sangat unik dibanding dengan burung lainnya, mereka minum dengan menghisap air.

Ekologi:

Burung ini hidup dalam kelompok dan tidak bermigrasi, dapat ditemukan di hutan kayu dan taman-taman dekat habitatnya. Burung puter ini telah secara sporadis tersebar di berbagai kontinen.


Return to map


CILACAP

Return to map

Ikan Sidat (Anguilla sp.)

Nama lain :   Sidat,

                       Eel fish.

Famili : Angullidae.

Deskripsi :

Ciri ikan sidat adalah memiliki tubuh memanjang seperti ular, sirip punggung dan sirip anal menyatu dengan sirip ekor, sirip dada dan perut tidak ada, dan bersisik halus. Perut jauh dari kepal, mulut terminal, gigi kecil. Berwarna kelabu sampai putih terang. Ukuran maksimal yang pernah ditemukan adalah dengan panjang 125 cm, dan berat 6 kg. Melindungi dirinya dari musuh dengan sengatan listrik.

Habitat :

Ikan sidat biasanya hidup di perairan tawar saat dewasa, hidup di daerah estuary saat masih muda. Ikan sidat di kolam perairan tawar yang berarus dan kolam, namun ikan sidat ini lebih suka tinggal di daerah rawa.

Penyebaran :

Menyebar terutama di pulau Sumatera bagian utara, barat dan barat daya, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, daerah pantai timur Amerika Utara, Eropa Barat, Afrika Timur, Afrika Utara, Asia Tenggara, Jepang, India, Australia Barat laut dan timur dan Selandia Baru.

Referensi:

Ety, Saanin et all. 1995.  Diktat Kuliah Sumberdaya Hayati Ikan.  Bogor: Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.


Return to map