Flora Identitas Kabupaten/Kota di
Provinsi Jawa Barat

KOTA CIREBON KOTA CIMAHI KOTA SUKABUMI KOTA BOGOR KOTA BANJAR KOTA BANDUNG KOTA TASIKMALAYA KOTA DEPOK KOTA BEKASI PURWAKARTA CIREBON KUNINGAN BEKASI MAJALENGKA SUMEDANG KARAWANG INDRAMAYU INDRAMAYU INDRAMAYU INDRAMAYU SUBANG CIAMIS TASIKMALAYA BOGOR BOGOR BANDUNG BANDUNG GARUT CIANJUR SUKABUMI SUKABUMI


KOTA CIREBON

Return to map

Gayam (Inocarpus fagiferus)

Nama lain :

Famili: Papilionaceae.

Deskripsi:

Pohon tanaman ini tidak begitu besar, tingginya bisa mencapai 5-10 m, dan batangnya mempunyai lekuk-lekuk yang dalam serta tidak teratur. Bunga gayam baunya sedap dan harum. Daun berwarna hijau, tua mengkilap, tumbuhnya lebat. Bunganya berbentuk kupu-kupu. Polongnya berbiji tunggal. Waktu masih muda, bijinya bewarna hijau, dan berubah menjadi kuning jika telah masak. Tanaman gayam memperbanyak diri dengan biji. 

Ekologi:

Tanaman ini sudah banyak dikenal orang dan menyebar secara alami di Malaysia sampai daerah Pasifik. Umumnya dijumpai pada daerah dengan ketinggian 500 m dpl. Di Jawa dan di Madura seringkali ditanam di daerah terbuka.

Kegunaan:

Sebagai tanaman peneduh karena kanopi sangat rapat dan hijau. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan perabotan rumah. Kulit kayu dapat digunakan untuk menyembuhkan berak darah.  Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak.   Buah dapat dimakan.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Danimihardja, Soejono R, Soetjipto NW, Prana MS.  1978.  Tanaman Industri.  Lembaga Biologi Nasional LIPI.


Return to map


KOTA CIMAHI


Return to map


KOTA SUKABUMI

Return to map

Pala (Myristica fragrans)

Nama lain:

Famili : Myristicaceae

Deskripsi:

Tumbuhan ini termasuk pohon, dengan tinggi 16-18 m dan gemang 30-45 cm. Tanaman ini memiliki cabang yang cukup banyak. Bentuk tajuk pohonnya yang menyerupai kerucut memudahkan pengenalan pohon ini. Daunnya berseling, helai daunnya bulat telur atau oval sampai lanset dan jika diremas barbau sangat harum. Pohon umumnya hanya berbunga jantan atau betina, meskipun demikian ada pula pohon yang mempunyai bunga jantan dan betina sekaligus pada satu pohon. Bunga-bunga ini tersusun dalam payung yang menggarpu. Buah yang terbentuk merupakan buah batu, berdaging kuning muda kehijauan, berbentuk bulat lonjong dan beralur memanjang ditengahnya. Bijinya dikelilingi oleh aril merah yang merekat di bagian pangkal biji. Biji berwarna coklat tua, berpola, dan berbentuk bulat telur. Daging buah, biji dan arilnya berbau harum. Benih yang ditanam akan berkecambah kurang lebih 30-40 hari setelah penyemaian. Mulai berbuah pada umur 5-7 tahun.

Ekologi:

Tanaman ini memerlukan tanah gembur, subur, atau tanah vulkanis serta memiliki drainase yang baik untuk bisa tumbuh dengan baik. Tanaman Pala sangat peka terhadap tanah bawah yang lembab. Kisaran suhu yang diperlukan untuk tumbuh yaitu antara 20-30C dan curah hujan yang teratur sepanjang tahun. Tumbuh dengan baik di wilayah pengunungan rendah dibawah 1000 kaki.

Kegunaan: 

Di Jawa, kayu dari pohon ini digunkan untuk bahan bangunan karena warnanya yang bagus. Kulit kayu dapat dipakai sebagai bahan cat. Daging buahnya juga dapat dimanfaatkan sebagai manisan dan arilnya digunakan untuk rempah-rempah dan obat.  Daunnya dapat digunakan untuk obat tradisional.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Danimihardja, Soejono R, Soetjipto NW, Prana MS.  1978.  Tanaman Industri.  Lembaga Biologi Nasional LIPI.


Return to map


KOTA BOGOR

Return to map

Kenari (Canarium vulgare Leenh)

Nama lain: ki tuwak, kanari panjang, ipalo, reri, kodja, kanak, java almond, kanali

Famili: Burseraceae

Sinonim: Canarium commune L

Deskripsi:

Merupakan tanaman pohon yang tingginya mencapai 45 m, dengan diameter sekitar 75 cm. Akar papan mencapai 3 m tingginya, dengan penumpu terletak di dalam ketiak daun, lonjong. Daun memiliki 5-11 anak daun yang berbentuk bulat telur sampai lonjong, berukuran 5-16 cm x 2-10 cm.  Secara gradual, pucuk akan meruncing, dengan pinggiran yang rata, tidak berbulu, dengan 12-15 pasang tulang daun sekunder  yang menonjol ke bawah. Perbungaan muncul pada bagian pucuk (terminal), dengan bunga jantan 5 mm panjangnya, dan bunga betina 6-12 mm panjang.  Benang sari 6 buah.  Buah bulat telur, bundar  dengan ukuran 35-50 mm x 15-30 mm, dan tidak berbulu. Dapat diperbanyak dengan biji.

Ekologi:

Tanaman ini umum ditemukan di hutan primer, dan hutan sekunder, pada dataran rendah kurang dari 500 m dpl atau dapat tumbuh juga (jarang) pada ketinggian 1800 m dpl.  Jenis ini banyak ditemukan secara gregarius.

Kegunaan:

Tanaman ini ditanam karena menghasilkan buah dan juga sebagai tanaman hias. Buah kenari seringkali menjadi hiasan yang menarik untuk kue.  Kayunya dapat digunakan untuk membuat perahu.

Referensi:

Fernandez EC.   2001.  Canarium L.  In Boer E, Ella AB.  2001. Plant Resource of South East Asia No 18: Plants producing exudates.   Bogor: Procea Bogor Indonesia.  Pp. 55-60

Wikipedia. 2006.  Canarium. Wikipedia.   http://en.wikipedia/wiki/canarium#searchInput


Return to map


KOTA BANJAR


Return to map


KOTA BANDUNG

Return to map

Petrakomala (Caesalpinia pulcherima L.)

Nama lain:  Bunga merak, kembang merak, kembang petra

Famili: Leguminosae

Sinonim: Poinciana pulcherima L

 

Deskripsi:

Tanaman yang termasuk perdu, selalu hijau, dan dapat tumbuh tinggi hingga mencapai 5 m, bercabang. Daun seperti sirip, dengan anak daun bulat telur, saling berhadapan, dengan 6-12 pasang per sirip. Pucuk membulat. Bunga berwarna merah, kuning, atau orange. Bunga biseksual, dengan sepal berukuran 10-15 mm x 5-7 mm, dengan daun mahkota 10-25 mm X 6-8 mm, benangsari tertarik keluar berwarna merah terang. Bakal buah memiliki 8-12 ovule. Pod yang terbentuk, berukuran  6-12 cm x 1,5-2 cm dengan 8-10 biji.  Biji berbentuk rektangular, coklat atau hitam. Tanaman ini berkembang biak dengan biji yang berkecambah dalam dua minggu.

Ekologi:

Tanaman ini aslinya dari Amerika tropis, dan sekarang banyak ditemukan di wilayah tropis. Sekarang banyak dibudidayakan di Asia Tenggara. Tanaman ini banyak ditemukan pada ketinggian 1700-2000 m dpl. Memerlukan drainase yang baik, memerlukan sinar matahari penuh, sangat toleran.

Kegunaan:

Secara umum, digunakan untuk mencuci mulut dan gigi, dan untuk pengobatan karena deman. Selain kegunaan dalam bidang medis, tanaman ini banyak ditemukan sebagai tanaman penghias tanaman, tepi-tepi jalan.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Utomo BI.  2001. Cesalpina L.  In Valkenburg JLCH, Bunyapraphatsara (Eds).   Plant Resources of South-East Asia 12 (2) : Medicinal and poisonous plants 2.  Leiden: Backhyus Publisher. Pp 128.


Return to map


KOTA TASIKMALAYA


Return to map


KOTA DEPOK


Return to map


KOTA BEKASI


Return to map


PURWAKARTA


Return to map


CIREBON

Return to map

Mangga Gedong Gincu (Mangifera indica)

Nama lain:  Mangga

Famili: Anacardiaceae

Deskripsi:

Mangga memiliki batang berupa pohon, tegak, tingginya antara 10-30 m. Kanopi yang dihasilkan dari daunnya yang rimbun dapa menjadi peneduh. Kulit batangnya abu-abu, kecoklat-coklatan, pecah-pecah, dan mengandung cairan semacam damar. Daunnya berwarna hijau gelap, dan bagian bawahnya agak terang. Daunnya memiliki panjang 4-12 inci, dan lebarnya -2 inci. Bunganya terdapat dalam malai dengan warna hijau kekuning-kuningan atau kemerah-merahan yang muncul pada bagian cabang terminal.  Bunga ini mengeluarkan senyawa volatil yang dapat mengakibatkan alergi pada orang tertentu. Mangga termasuk tumbuhan poliembrioni, yaitu dapat melakukan fertilisasi sendiri tanda polinasi. Kultivar Gedong Gincu, buahnya bulat sebesar buah apel. Buah muda berwarna hijau tua, dan pada bagian pangkal buah berwarna kemerah-merahan atau keunguan. Buah masak akan berwarna kuning-orange, dan warna kemerahan tetap ada. Buah masak sangat manis, dan berserat cukup banyak, daging buah tebal, dengan aroma yang kuat. Produksi per tahun 100-150 kg. Tanaman ini berkembang-biak dengan biji. Tanaman akan mulai berbuah setelah 8-10 tahun. Mangga umumnya akan berbuah pada bulan Mei-Juni dan buahnya masak pada bulan September sampai Oktober. Mangga diduga bisa berumur sangat lama, bahkan bisa mencapai 300 tahun.

Ekologi:

Mangga berasal dari Asia Selatan, khususnya India dan Burma. Tanaman mangga memerlukan suhu yang hangat, dan tidak tahan terhadap suhu yang sangat dingin. Tanaman mangga tumbuh baik pada berbagai tipe tanah, tetapi paling baik adalah pada tanah berpasir, lempung, atau lempung setengah berat dan membutuhkan udara yang kering. Tingkat keasaman yang mungkin adalah 5,5-7. Untuk perkembangan akar, mangga memerlukan tanah yang cukup dalam.  

Kegunaan:

Buah dapat dikonsumsi langsung, yang telah masak akan terasa manis, dan agak masam jika buah masih muda. Biji dapat diolah menjadi tepung biji mangga dan dijadikan sebagai dodol. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, peti kemas. Cairan kulit batang dapat digunakan sebagai bahan pembuat lem.

Referensi:

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000.  Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Jakarta: Departemen Pertanian.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek Sumberdaya Ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor .

Sukonthasing S, Wongrakpanich, Verheij EWM.  1992. Mangifera indica L. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 211-216.


Return to map


KUNINGAN

Return to map

Kesemek (Diospyros kaki)

Nama lain:

Famili:  Ebenaceae

Deskripsi:

Tanaman ini dapat berbentuk pohon maupun perdu dengan ketinggian antara 3-15 m. Daunnya bundar telur. Bunganya berwarna putih, kuning pucat atau kuning kehijau-hijauan. Buahnya bulat, berwarna kuning kehijau-hijauan, kuning, merah jingga atau merah. Buah berbentuk bulat agak segi empat, dan berwarna hijau ketika masih muda, merak keuningan ketika sudah masak. Buah dengan bobot 170-210 gr. Daging buah tebal, lunak, renyah dan manis. Daging buahnya tebal, dan rasanya manis. Bijinya 2 sampai 8 buah, dan kadang-kadang tidak menghasilkan biji. Tanaman ini mulai berbuah setelah berumur 8-10 tahun, yaitu sekitar bulan April-Juli. Kesemek diperbanyak dengan menempel, cangkok, atau sambungan. Jenis yang baik akan berbuah setelah 3-4 tahun.   Jenis yang tak berbiji warnanya buahnya kuning emas dan merah jingga. Di Jawa, jenis yang tidak berbiji berwarna kuning emas, keras, berair, dan rasanya manis.

Ekologi:

Kesemek berasal dari Cina dan Jepang, dan telah umum dijumpai di wilayah tropika.  Tanaman ini memerlukan tanah yang kaya akan bahan organik dan kandungan air dalam tanah yang cukup merupakan daerah yang baik untuk tumbuhnya. Di daerah tropika  umumnya dijumpai pada ketinggian di atas 1000 m dpl. Di Jawa terutama tumbuh baik pada ketinggian 1000-1500 m dpl. Tempat yang cocok adalah pada punggung, tepi-tepi parit di sekitar sawah, telaga atau sungai seperti di Cina dan Jepang.

Kegunaan:

Buah yang telah tua di pohon tidak dapat segera dimakan, biasanya direndam dauhulu dalam air kapur selama 24 jam untuk menghilangkan rasa asm dan kelat. Setelah diperam buah dapat dimakan dalam keadaan segar. Buah yang belum masak digunakan sebagai zat pewarna. Kayunya dapat digunakan sebagai peralatan rumah tangga.

Referensi:

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G, Mogea JP, Sukardjo S, Sunarto AT.  1977.  Buah-buahan.  Bogor: Proyek Sumberdaya Ekonomi-Lembaga Biologi Nasional-LIPI. 

Soerianegara I, Alonzo DS, Sudo S, Sosef MSM.   Timbers. Plant Resources of South-East Asia. Timber Trees: Minor Commercial. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia

Return to map


BEKASI

Return to map

Kecapi (Sandorium koetjape)

Nama lain: Santol, ketuat, sentul, santot

Famili:  Meliaceae

Sinonim: Melia koetjape, Sandorium indicum, Sandorium nervosum

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk pohon yang dapat mencapai ketinggian 30 m, diameter batangnay 90 cm, dan mengandung getah seperti susu. Daunnya berselang seling, beranak daun tiga helai, betangkai panjang hingga mencapai 18,5 cm. Anak daunnya berbentuk jorong sampai bundar telur dengan ukuran 6-26 cm x 3-16 cm, dengan tangkai 2-9 cm panjangnya. Lembaran anak daun bagian atas berwarna hijau mengkilap, dan bawahnya hijau terang. Bunga yang bertipe malai akan muncul  dari ketiak daun dengan mencapai panjang 25 cm. Bunga bersifat biseksual, berwarna hijau kekuning-kuningan, berukuran 1 cm X 1,3 cm, daun kelopaknya berbentuk cawan, bercuping 5, dan daun mahkotanya 5 helai berbentuk lanset sungsang. Bakal buah beruang tiga dengan cakram kekuningan yang mengelilinginya. Buah bertipe buah buni, berbentuk bulat pipih, berdiameter 5-6 cm, dan berwarna kuning keemasan., berbulu halus. Daging buah bagian luarnya cukup tebal, keras dan berwarna merah, serta agak asam. Buah bagian dalam berwarna putih, rasanya asam sampai manis, dan melekat pada biji. Bijinya berjumlah 2-5 butir per buah, berbentuk bulat telur, sungsang dan berwarna coklat hitam. Keping bijinya berwarna merah. Tanaman ini dapat  diperbanyak dengan biji, okulasi.

Ekologi:

Tanaman ini dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi, bahkan dalam kondisi kekeringan. Kecapi dapat ditemukan dari ketinggian 0 - diatas 1000 m dpl.  Tanaman ini akan tumbuh baik pada tanah-tanah liat berlempung dan liat berpasir yang longgar dan gembur, serta banyak mengandung  humus.

Kegunaan:

Buah kecapi biasanya dimakan dalam keadaan segar atau diolah emnjadi manisan. Buah ini dapat pula dimanfaatkan sebagai pengharum makanan alami. Pohon dapat digunakan sebagai tanaman peneduh, kayunya untuk konstruksi bangunan, kerajinan kayu, dan  untuk perabotan rumah tangga.

Referensi:

Coronel RE 1992. Sandorium koetjape (Burm.f).Merr.  In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 284-290.


Return to map


MAJALENGKA


Return to map


SUMEDANG

Return to map

Jeruk Cikoneng (Citrus maxima kultivar cikoneng)

Nama lain: Pamelo

Famili: Rutaceae

Sinonim: Citrus aurantium

Jeruk besar yang berasal dari daerah Cikoneng diberi nama kultivar Cikoneng.  Jeruk ini banyak dijual di sepanjang jalan Cikoneng. Diberitakan bahwa rasa jeruk Cikoneng ini sangat berbeda dengan jeruk besar kultivar lainnya.

Deskripsi:

Tanaman pohon ini dapat tumbuh hingga 5-15 m, memiliki cabang yang rendah, tersebar. Daunnya berbentuk bundar telur, hingga jorong, ujungnya antara lancip dan tumpul, dengan lebar daun sekitar 7 cm. Bunga muncul dari ketiak daun, berisi rangkaian beberapa kuntum bunga atau hanya sekuntum bunga. Bunga berukuran besar, dengan kuncup nya berukuran 2-3 cm, setelah mekar penuh berukuran 3-5 cm. Daun berbulu halus, dengan daun mahkotanya  berwarna putih susu. Bakal buah beruang 11-16. Buah bertipe buah buni. Ciri jeruk ini, rasanya manis, dagingnya besar, kulitnya kasar namun tipis. Bentuk buah bulat  panjang, warna daging buah krem kemerahan, rasa daging buah manis segar, teksturnya halus tidak berserat dengan produksi 50-200 buah. Panen raya jeruk ini, pada bulan Juli-Agustus.Tanaman ini berkembang biak dengan biji. Tanaman akan mulai berbuah setelah 6-8 tahun.

Ekologi:

Asal usul tanaman ini tidak banyak diketahui, tetapi yang pasti dari Malesia. Tanaman ini dapat tumbuh baik di dataran rendah tropik, dengan suhu sekitar 25-30 C, dengan curah hujan sepanjang tahun sekitar 1500-1800 mm. Tanaman jeruk besar ini dpat tumbuh di ketinggian di atas 400 m dpl. Tanaman ini toleran terhadap berbagai tipe tanah, tetapi lebih menyukai tekstur medium dan subur yang bebas dari garam-garam yang membahayakan.

Kegunaan:

Manfaat daging buah jeruk besar ini yang segar dan banyak mengandung air dapat dikonsumsi langsung atau dibuat rujak. Jeruk besar ini juga dapat diambil minyaknya dari kulit luarnya. Kayunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan perkakas.

Referensi:

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000.  Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Jakarta: Departemen Pertanian.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Niyomdham C. 1992. Citrus maxima (Burm) Merr.. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 128-131.


Return to map


KARAWANG

Return to map

Jambu air cincalo (Zyzygium aqueum kultivar cincalo)

Nama lain: Jambu air

Famili: Myrtaceae

Sinonim: Eugenia aquea

Jambu air Cincalo merupakan salah satu kultivar jambu air besar  berwarna merah, hijau atau putih. Kultivar ini merupakan kultivar jambu air paling komersial disamping kultivar Semarang. Kultivar ini banayk dibudidayakan di wilayah Tangerang dan Karawang.

 

Deskripsi:

Tanaman pohon ini dapat tumbuh dengan ketinggian 3-10 m, dengan batang yang pendek dan bengkok, berdiameter 30-50 cm, seringkali bercabang-cabang dari pangkal batangnya, dan kanopi tidak beraturan. Daunnya berhadapan, berbentuk jantung-jorong sampai bundar telur, berukuran 7-25 cm X 2,5-16 cm, dengan tangkai daun yang berukuran panjang 0,5-1,5 mm. Bunga terminal dan muncul dari ketiak daun yang berisi 3-7 kuntum, dengan diameter 2,5-3,5 cm, berwarna kuning-putih, dengan benang sari yang berjumlah banyak. Buahnya bertipe buah buni, berbentuk gasing, dengan ukuran 1,5-2 cm X 2,5-3,5 cm, bermahkotakan segmen-segmen kelopak yang berdaging, berwarna putih smapai merah, berkilap. Daging buahnya berisi banyak sari buah, hampir tidak beraroma. Bijinya 1-6 butir, berbentuk membulat dan berukuran kecil.  Tanaman ini dapat berkembang biak dengan biji atau stek.

Ekologi:

Tanaman ini diduga berasal dari India Selatan yang saat ini telah menyebar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman jambu air hanya cocok untuk daerah rendah tropis , dan memerlukan curah hujan sepanjang tahun. Tanaman jambu air akan tumbuh baik di daerah yang curah hujannya rendah/kering sekitar 5003.000 mm/tahun dan musim kemarau lebih dari 4 bulan. Dengan kondisi tersebut, maka jambu air akan memberikan kualitas buah yang baik dengan rasa lebih manis. Cahaya matahari berpengaruh terhadap kualitas buah yang akan dihasilkan. Intensitas cahaya matahari yang ideal dalam pertumbuhan jambu air adalah 4080%. Suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu air adalah 18-28C. Kelembaban udara antara 50-80%.

Kegunaan:

Buah jambu dapat dikonsumsi langsung, karena jika matang rasanya sangat manis dan banyak mengandung air. Kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

Referensi:

Morton, J. 1987. Water Apple. p. 382383. In: Fruits of warm climates. Julia F. Morton, Miami, FL.

Sarwono B. (1990).  Jenis-jenis Jambu Air Top.  Jakarta, Trubus.

Guntur, Henny. (1985).  Jambu Baron.  Jakarta, Asri.

Kanisius, Aksi agraris. (1980).  Bertanam Pohon Buah-buahan I.

Yayasan Kanisius, Yogyakarta.(1987). Bertanam Jambu Air.  Jakarta, Trub


Return to map


INDRAMAYU


Return to map


SUBANG

Return to map

Nenas Subang (Ananas comosus kultivar subang)

Nama lain: Anes, Nas, Asit, Nanasi

Famili : Bromeliaceae

Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang sangat terkenal dengan hasil buminya, yaitu nanas. Nanas Subang ini sangat manis, dan memiliki bentuk  buah yang besar. 

Deskripsi:

Nanas termasuk ke dalam kelompok tanaman herba perenial. Tanaman nanas merupakan jenis tanaman roset yang panjang, dan memiliki daun yang bergerigi pada bagian pinggirannya. Daun umumnya berwarna hijau tua, hingga hijau kemerahan atau kekuningan. Tanaman ini aslinya berasal dari Amerika tropis, beberapa sumber menyebutkan tanaman ini berasal dari Brazil, Brazil Selatan, Paraguay. Bibit yang ditanam memerlukan waktu dua tahun untuk mencapai dewasa dan siap menghasilkan buah. Pada saat pembungaan, batang akan memanjang dan membesar pada dekat titik tumbuh bunga. Kuncup bunga yang muncul akan berwarna ungu atau merah. Buah yang terbentuk merupakan gabungan dari buah-buah kecil. Biji nanas umumnya tidak ditemukan pada nanas komersial. Buah muncul pada bagian pucuk tengah dan berbentuk oval. Buah terbentuk 6 sampai 8 bulan setelah pembentukan bunga. Buah yang matang akan berwarna kuning, orange, atau kemerahan. Tanaman nanas dapat tumbuh berkembang hingga mencapai ketinggian 1,2 m. Tanaman nanas yang didomestifikasi di pekarangan rumah tidak dapat berkembang sebesar tanaman nanas yang dikembangkan secara komersial. Tanaman ini berkembang biak secara vegetatif dan dapat diperbanyak dengan cara memotong bagian bagian yang menyerupai daun yang tumbuh pada bagian pucuk buah nanas. Pucuk buah nanas yang ditanaman akan tumbuh akar dan berkembang menjadi tanaman nanas yang sempurna. Pemaparan terhadap sinar matahari terus menerus dapat menyebabkan daun nanas menjadi agak kemerahan.

Ekologi:

Tanaman nanas memerlukan sinar matahari penuh untuk berkembang sempurna dan suhu sekitar 68F. Tanaman ini memiliki tingkat adaptasi yang cukup dan dapat tetap berkembang pada saat suhu rendah hingga mencapai 28F (-2C). Kondisi dingin yang berkepanjangan dapat menyebabkan nanas tumbuh kurang sempurna dan terlambat dewasa. Keterlambatan ini menyebabkan buah menjadi asam rasanya. Untuk tumbuh subur, pohon nanas memerlukan suply nitrogen dan potasium yang cukup banyak. Agar tumbuh dengan baik, tanaman nanas harus ditanam pada tingkat keasaman tanah 4,5-6,5.

Kegunaan:

Tanaman nanas merupakan tanaman buah yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat.  Buahnya terasa sangat segar dan dapat dimakan secara langsung atau dioleh menjadi jus dan selai.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Soetisna U, Panggabean G et al.  1977. Buah-buahan.  Proyek sumberdaya ekonomi.  Lembaga Biologi Nasional-LIPI: Bogor


Return to map


CIAMIS

Return to map

Bunga Padma (Rafflesia padma  Blume)

Nama lain:

Famili : Rafflesiaceae

Deskripsi:

Tumbuhan ini termasuk ke dalam tumbuhan terna yang bersifat parasit obligat, hidup pada akar dan bagian bawah batang tumbuhan liana Vitis lanceolaria WALL. Tumbuhan ini tidak berakar dan tidak mempunyai klorofil, dengan diameter 30-60 cm, dan tabung perhiasan bunga terletak di dalam. Bunga uniseksual, soliter, teratur dan berukuran besar. Kuncup bunga tidak bertangkai, dan pertama nuncul sebagai suatu pembengkakan, dengan bentuk segi enam.  Tabung perhiasan bunga terletak di dalam, dan cuping perhiasannya berjumlah lima, berwarna kemerahan, gemuk dan terletak didalam dekat diafragma, dengan pembukaan membulat pada bagian tengah, melekat ke dalam cakram.  Bunga jantan dengan tangkai anther di sekitar kolom, dan bunga betina dengan bakal buah yang berplasenta banyak. Kepala putik berada pada suatu cincin yang mengelilingi  pinggiran cakram kolom. Buah bertipe buah batu, dan memiliki biji yang cukup banyak. Biji bertipe biji palsu dengan panjang 1 mm, dikelilingi oleh daging buah yang keras, gemuk. Siklus hidup dari biji ke biji sekitar 3-4,5 tahun. Bunga mungkin memerlukan 10 bulan untuk berkembang menjadi bunga dewasa. Bunga hanya akan membuka sekitar 4-5 hari, dan kemudian akan membusuk. Pematangan buah akan memerlukan 8 bulan, dan buah akan mengandung berjuta-juta biji.

Ekologi:

Tumbuhan ini hidup pada retakan-retakan lubang lembab yang terletak di karang kapur pantai selatan pulau Jawa. Umumnya banyak ditemukan di hutan primer atau sekunder dataran pada ketinggian sekitar 1000-1800 m dpl, tetapi di Indonesia ditemukan di dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 400 m dpl.  Spesies ini termasuk langka dan jarang ditemukan.

Kegunaan:

Tumbuhan ini memiliki nilai ekowisata yang tinggi karena cara hidup, ukuran, dan warnanya yang eksotik serta jarang ditemukan.  Bunga padma digunakan untuk kepentingan pengobatan. Dipercaya oleh masyarakat dapat digunakan sebagai obat dengan cara diminum untuk wanita yang sedang nifas agar kandung rahimnya bersih

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Rahayu SSB. 2003.  Rafflesia R.Br.  In Lemmens RHMJ, Bunyapraphastara N,  Plant Resource of South East Asia: Medicinal and poisonous plants 3. Leiden : Backhuys Publishers. Pp. 342- 344


Return to map


TASIKMALAYA

Return to map

Tanaman Mendong (Fimbristylis globulosa)

Nama lain: Daun tikar, Purun Tikus, Mansiang mancik

Famili: Cyperaceae

Deskripsi:

Termasuk ke dalam tanaman terna berlempeng, tingginya dapat mencapai 1,50 m, dengan daun-daun mengecil seludang tanpa gebeng. Tanaman ini termasuk tanaman yang dapat tumbuh dengan cepat. Dalam 1 hingga 2 minggu, tanaman ini dapat bertunas dengan baik. Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman ini dapat mencapai umur hingga tujuh tahun. Jika tanaman tumbuh dengan cepat, maka dalam 2 hingga 3 bulan, sudah dapat dipanen. Dalam 4-5 bulan, jumlah rumpun yang dihasilkan dapat mencapai 120 batang.

Ekologi:

Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian antara  300 dan 750 m dpl. Pada dataran rendah, tanaman ini memerlukan tanaman pelindung dan memerlukan banyak air. Jika terjadi kekeringan, maka tanaman ini tidak akan dapat bertahan, daun akan segera menguning dan akhirnya mati. Selain itu, untuk tumbuh, mendong memerlukan tanah yang agak berpasir atau berkerikil.

Kegunaan:

Oleh masyarakat lokal, tanaman tersebut digunakan untuk membuat tikar.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya


Return to map


BOGOR

Return to map

Kemang (Mangifera kemanga Blume)

Nama lain: Palong

Famili: Anacardiacea

Sinonim: Mangifera polycarpa Griffith

Deskripsi:

Termasuk sebagai pohon yang besar dengan ketinggian antara 30-45 m, dengan diameter batang utama mencapai 50-120 cm. Tajuk dibentuk oleh cabang-cabang yang masif. Daun berbentuk jorong, atau bulat telur 7-30 cm X 3-10 cm, hijau medium, bersinar di bagian atas, dengan tangkai daun membesar. Bunga berbilangan lima, harum, daun mahkota linier, dengan 10 panjangnya, tidak  begitu lentik seperti bunga mangga lainnya.  Benangsari fertil 1, filamen 5 mm, berwarna putih pada bagian basal, dan ungu pada bagian pucuknya, cakram tidak begitu jelas.  Bakal buah bundar, coklat kemerahan, dengan tangkai bunga yang eksentrik memanjang hingga 8 mm, berwarna putih, dan menjadi violet setelah antesis.  Buah termasuk buah batu yang berbentuk bulat telur 12-20 cm x 6-12 cm. Kulit buah berwarna kekuningan, segar berserat, dan halus. Bila dibandingkan dengan M. caesia, kemang ini bunganya lebih sedikit, dan buahnya kering coklat kekuningan bila telah masak.

Ekologi:

Tanaman ini hanya terbatas pada dataran rendah tropis yang lembab, umumnya dibawah 400 m dpl. Tanaman ini memerlukan curah hujan yang terdistribusi sepanjang tahun.

Kegunaan:

Buah kemang memang sudah sangat umum dibudidayakan di Jawa Barat.  Kemang dapat dimakan langsung jika telah masak atau digunakan untuk jus.  Buah yang belum masak dapat digunakan sebagai rujak dengan campuran buah yang lain.  Daun yang sangat muda digunakan sebagai lalap.

Referensi:

Bompard JM. 1992.  Mangifera Caesia Jack, Mangifera kemanga Blume In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia Pp. 207-209

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

 

Return to map


BANDUNG

Return to map

Kina (Cinchonia ledgeriana)

Nama lain:

Famili:  Rubiaceae

Deskripsi :

Tanaman ini tergolong sebagai pohon dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 17 m. Daunnya duduk berhadap-hadapan, jorong, atau bulat telur, dengan ukuran yang cukup besar dan bertangkai agak pendek. Permukaan atas helai daun hijau, sedangkan permukaan bawahnya  lebih suram. Bunga berwarna coklat. Tanaman kina ini dapat diperbanyak dengan biji.

Ekologi :

Tumbuhan ini banyak ditemukan di hutan-hutan. Di Indonesia, penanamannya terbatas di daerah-daerah  pegunungan di Jawa Barat pada ketinggian sekitar 1000-1950 m dpl.

Kegunaan :

Kulit kayu dikumpulkan dan dikeringkan untuk selanjutnya diolah untuk diambil alkaloidnya. Pada spesies ini, kadar alkaloid pada kulit kayu sangat tinggi dibandingkan spesies lainnya Cinchona pubescens, yaitu antara 5-8%, dengan kandungan quinie 3-13%. Tanaman kina sangat terkenal dalam dunia obat-obatan dan berguna untuk mengobati penyakit malaria.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Sastrapradja S, Danimihardja, Soejono R, Soetjipto NW, Prana MS.  1978.  Tanaman Industri.  Lembaga Biologi Nasional LIPI.


Return to map


GARUT

Return to map

Jeruk Garut (Citrus reticulata kultivar Garut)

Nama lain: Jeruk keprok

Famili: Rutaceae

Jeruk keprok Garut merupakan salah satu kultivar unggulan, yang rasanya manis, dan kulitnya mudah dikupas. Sebenarnya jeruk ini merupakan kultivar hasil silangan dari beberapa kultivar yang ada. Diberi nama jeruk garut, karena dihasilkan di Garut dan sangat terkenal di daerah ini.

Deskripsi :

Tanaman ini memiliki perawakan yang kecil, berduri, ranting-rantingnya rampping. Daunnya berbentuk lanset atau sempit, jorong, ujung dan pangkalnya lancip. Bunga muncul dari ketiak daun membentuk satu rangkai, dan berwarna putih. Buah bertipe buah buni, berbentuk bulat gepeng atau agak membulat, bagian ujung pangkal terdapat puting, warna dagingnya kuning orange, rasanya manis segar, beraroma harum.  Buah mudah terlepas dari kulit ari, dengan produksi 50 kg/pohon/musim. Segmen umumnya berjumlah 10-12 segmen. Buah berdiameter 5-10 cm. Tanaman ini berkembangbiak dengan biji yang dihasilkannya.

Ekologi:

Tanaman jeruk ini sangat baik tumbuh di wilayah tropik. Jeruk keprok yang termasuk kultivar yang mudah dikupas kulitnya, misalnya jeruk garut, sangat baik tumbuh di dataran tinggi 600-1.300 m dpl dan memerlukan musim kering yang jelas agar berbunga dengan baik. Tanaman ini memerlukan matahari penuh atau dengan naungan.

Kegunaan:

Jeruk yang segar ini dapat dikonsumsi langsung sebagai buah meja. Sari buah yang diekstrak dari daging buah dibuat minuman kalengan. Pektin dan minyak atsiri dihasilkan dari kulit buah jeruk ini.

Referensi:

Direktorat Jenderal Produksi Hortikultura dan Aneka Tanaman. 2000.  Informasi Hortikultura dan Aneka Tanaman. Jakarta: Departemen Pertanian.

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Ashari S. 1992. Citrus reticulata Blanco.. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 135-138.

Trubus. 2006. http://www.trubus-online.com


Return to map


CIANJUR

Return to map

Samolo (Diospyros blancoi)

Nama lain: buah mentega, bisbul, mabolo

Famili: Ebenaceae

Sinonim : Diospyros discolor Willd, Diospyros philipensis (Desr.) Guerke

Deskripsi:

Tanaman ini termasuk pohon yang selalu hijau dengan tinggi anatara 7-32 m, dengan diameter pangkal batangnya 50-80 cm, tajuknya berbentuk kerucut. Daunnya berselang-seling, berbentuk lonjong, berukuran 8-30 cm X 2,5-12 cm, ujungnya lancip, pangkal bundar, pinggirannya rata. Tanaman ini berdaun hijau mengkilap, tidak berbulu pada bagian atas, dan pada bagian bawah berbulu perak. Daun hijau berwarna pucat sampai merah jambu, dan tangkai daunnya memanjang hingga 1,7 cm. Tanaman ini berkelamin dua, bunga jantan tersusun dalam payung menggarpu, di ketiak daun, dan terdiri atas 3-7 kuntum, dan tangkai bunganya pendek. Daun kelopaknya berbentuk tabung dna bercuping 4, demikian juga daun mahkotanya. Bunga betina soliter dengan ukuran lebih besar dari bunga jantan. Buahnya bertipe buah buni, bulat atau bulat gepeng dnegan ukuran 5-12 cm X 8-10 cm, berbulu dan berwarna coklat kemerahan. Daging buahnya berwarna putih, keras, agak kering dan rasanya manis. Bijinya berjumlah sekitar 10 butir per buah. Pohon yang ditanam dari biji cenderung tegak, terkadang memiliki satu batang tanpa cabang.

Ekologi: 

Tanaman ini berasal dari Filipina, dan saat ini telah menyebar di Asia Tenggara. Samolo ini banyak ditemukan di daerah beriklim muson, pada dataran rendah hingga menengah (0-800 m dpl).  Tanaman ini beradaptasi dengan berbagai tipe tanah.  Bisbul sangat tahan terhadap angin kencang.

Kegunaan:

Buah bisbul dapat dimakan dalam keadaan segar jika telah matang. Rasanya agak manis, dan daging buahnya bisa juga digunakan untuk campuran rujak. Kayunya licin dan tahan lama, warnanya hitam, dan umumnya digunakan untuk kerajinan tangan atau untuk ditanam di pinggir jalan.

Referensi:

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia.  Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Soerianegara I, Alonzo DS, Sudo S, Sosef MSM.   Timbers. Plant Resources of South-East Asia. Timber Trees: Minor Commercial. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia

Coronel 1992. Diospyros blancoi A.DC. In Coronel, R.E. & Verheij, E.W.M. (Eds.): Plant Resources of South-East Asia. No. 2: Edible fruits and nuts. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia. pp. 251-252.


Return to map


SUKABUMI

Return to map

Guttapercha (Palaquium gutta (Hook.f) Baill.)

Nama lain:  Balam merah, getah merah, getah sambun

Famili: Sapotaceae

Sinonim: Palaquium acuminatum  Burk, P. oblongifolium  Burk

Deskripsi:

Merupakan tanaman medium sampai besar dengan ketinggian mencapai 45 m, dan diameternya 60 cm, dengan akar papan yang kecil. Ranting umumnya sangat kecil, berbulu. Daun berselang, menyatu pada bagian ranting yang kosong. Penumpu umumnya mencapai panjang 3 mm, menjuntai ke bawah, dengan tangkai daun  1-6 cm panjangnya, bulat telur, atau jorong,.  Perbungaan, muncul dari ketiak daun dengan 2-10 bunga, bersifat biseksual, dengan tangkai bunga 2-12 mm panjangnya, sepal 2-7, dan daun mahkota seperti tabung dengan panjang 9 mm, 5-6 cuping, berwarna kekuningan atau kehijauan. Benang sari 10-36 terletak di dalam leher  daun mahkota.  Pistil 1, dengan bakal buah bersel 5-10, dan memiliki tangkai putik yang panjang. Buah bulat, atau jorong, atau bulat telur dnegan panjang 2-3,5 cm, umumnya berbulu dan hijau.   

Ekologi:

Tanaman ini banyak ditemukan terpencar pada dataran rendah, walaupun terkadang ditemukan pada ketinggian 1600 m dpl. Tanaman ini memerlukan tanah yang mengandung bahan organik tinggi.

Kegunaan:

Latek yang diperoleh dari daun digunakan sebagai bahan kabel. Kabel yang dilapisi latek tersebut umumnya digunakan untuk sub marine, kabel bawah tanah. Sangat bagus karena tidak bersifat konduktif untuk listrik dan panas.   Tanaman ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan medis/pengobatan.  Kayu tanaman ini digunakan untuk membuat furniture.

Referensi: 

Aguilar NO.  2001. Palaquium gutta (Hook.f) Baill  In Boer E, Ella AB.  Plant Resource of South East Asia No 18: Plants producing exudates.   Bogor: Procea Bogor Indonesia.  Pp. 92-95

Heyne K.  1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia Jakarta: Yayasan Sarana Warna Jaya

Kartasubrata J, Tonanon N, Lemmens RHMJ, Klaassen R.   1994.  Palaquium Blanco. In Soerianagara I, Lemmens RHMJ. (Eds).  Plant Resources of South East Asia No 5(1). Timber trees: Major commercial timbers.  Prosea Bogor Indonesia Pp.  303-319.



Return to map