Jawa Barat
Flora Propinsi | Fauna Propinsi | Flora Kota/Kab | Fauna Kota/Kab

Daftar Fauna Kota/Kabupaten


Pilih kota/kabupaten yang diinginkan.




BOGOR
Lutung Surili
((Presbytis comata))

nama lain :
Surili (Jawa Barat).
suku : Grizzled leaf monkey


Deskripsi

Umumnya warna tubuh surili dewasa mulai dari kepala sampai bagian punggung hitam atau coklat dan keabuan. Sedangkan warna rambut jambul dan kepala berwarna hitam. Rambut yang tumbuh di bawah dagu, dada dan perut (ventral), bagian dlam lengan dan kaki dan ekor, berwarna putih. Rambut alis kaku tumbuh mengarah ke depan. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemeraham. Surili memiliki iris mata coklat gelap. Anak yang baru lahir berwarna putih dan memiliki garis hitam muali dari kepala hingga bagian ekor. Panjang tubuh betina dan jantan hampir sama, yaitu berkisar 430-600 mm, dengan panjang ekor berkisar 560-720 mm. Berat tubuh rata-rata 605 kg. Surili memiliki kelompok relatif kecil, bila dibandingkan dengan jenis lutung lainnya. Jumlah individu dalam kelompok antara 7-12 ekor. Sistem perkawinannya multimale, tetapi monogami, dengan satu ekor jantan dalam kelompok. Jenis suara yang dikeluarkan adalah kik...kik...kik..., dan umumnya dikeluarkan oleh jantan atau anggota kelompok saat ada bahaya. Suara ini diulang terus-menerus, hingga keadaan dirasa aman. Selain sebagai tanda bahaya, suara juga dikeluarkan saat kelompok mulai meninggalkan pohon tidur. Pada saat berpindah dari dahan yang satu ke dahan yang lain, surili biasanya meloncat atau kadang-kadang berjalan dengan keempat anggota tubuhnya jika dahan yang dilalui berukuran besar. Daerah jelajah tergantung dari besar kecilnya kelompok. Kelompok dengan jumlah individu 4-19 ekor berkisar antara 9-20 ha. Kadang-kadang daerah jelajah tumpang tindih dengan daerah kelompok lain. Pergerakan hariannya rata-rata mencapai 900 meter per hari. Surili aktif di siang hari (diurnal) dan menempati lapisan atas dan tengah kanopi hutan (arboreal). Pada saat anggota kelompok turun ke dasar hutan untuk memakan tanah, pimpinan kelompok (jantan) selalu terlihat waspada. Anggota kelompok akan segera kembali ke pohon, bila ada panggilan dari pemimpinnya. Pada siang hari, saat anggota kelompok umumnya beristirahat, individu muda sering terlihat bermain dengan anggota kelompok, baik jantan maupun betina muda. Surili menggunakan hanya 30% dari waktunya untuk makan dan 5% untuk pergerakan, sedangkan porsi waktu yang lebih besar (60%) digunakan untuk istirahat. Pada malam hari anggota kelompok tidur saling berdekatan pada ketinggian lebih kurang 20 meter di atas permukaan tanah. Biasanya mereka jarang menggunakan pohon tidur yang sama dengan hari sebelumnya.

Ekologi



Habitat

Surili menempati hutan primer dan sekunder mulai dari hutan pantai, hutan bakau, hutan pegunungan pada ketinggian sekitar 2000 m dpl. Seringkali dijumpai di zona antara hutan dan kebun.

Penyebaran Lokal / Status

Presbytis comata tersebar hanya di Jawa Barat, terutama di beberapa taman nasional, cagar alam, dan hutan lindung

Penyebaran Global



Kegunaan



Referensi

Supriatna J. & Edy Hendras W. 2000. Panduan Lapangan. Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.



PURWAKARTA
Kura-kura Belawa
((Orlitia borneensis))

nama lain :
-
suku : Bataguridae


Deskripsi

Kura-kura belawan merupakan kura-kura air tawar yang terbesar dan dapat berkembang dengan berat sekitar 36-50 kg atau lebih, dengan panjang tempurung punggung sekitar 80 cm. Pada umumnya kura-kura ini berwarna gelap, dengan tempurung punggung kehitaman, coklat atau abu-abu gelap, serta tidak berpola. Leher, ekor, dan tungkai memiliki warna yang sama, hitam, coklat atau abu-abu. Kepalanya gelap dengan garis terang memanjang mulai dari mulut dan kemudian melebar pada bagian belakang kepala. Pada bagian bawah tempurung berwarna kekuningan atau coklat terang. Tempurung agak tipis, datar dan berbentuk oval. Pada bagian atasnya membulat dan halus. Kepalanya besar dan lebar dengan moncong yang menonjol keluar. Kura-kura ini juga memiliki jari kaki yang berselaput, jari-jarinya, dan bagian luar tungkai depannya dilengkapi dengan sisik seperti pita. Ekor kura-kura betina lebih pendek dan lebih langsing daripada jantan. Terdapat perbedaan tempurung antara kura-kura muda dan yang tua. Kura-kura muda memiliki tempurung lebih tinggi. Cangkang kura-kura muda lebih tinggi, lebih datar, tipis, dan halus. Spesies ini termasuk hewan omnivora yang memakan ikan kecil, tumbuhan, dan terkadang ular kecil. Kematangan seksual dicapai setelah kura-kura berumur antara 10-20 tahun, betina akan bersarang di sungai-sungai. Telur-telurnya panjang dan cangkangnya terlihat kuat, tetapi rapuh.

Ekologi

Spesies ini termasuk terancam punah dan dilindungi, dan tidak banyak informasi yang diketahui mengenai perilaku dan cara hidupnya. Umumnya spesies ini agak agresif, banyak ditemukan di danau dan sungai.

Habitat



Penyebaran Lokal / Status

Spesies ini tersebar di Malaysia, Borneo, dan beberapa daerah di Indonesia. .

Penyebaran Global



Kegunaan



Referensi

Das, Indraneil, and Ghazally Ismail. Crocodiles and Turtles of Borneo. 2002. Arbec. 24 Mar 2003.
Orlitia borneoensis - Malaysian Giant Turtle. http:// www.chelonia.org



CIANJUR
Ayam Pelung
((Gallus domesticus))

nama lain :
Ayam Ciparage, Wereng, Kendal, Kedu , Gaok, Paser, Nunukan, Tukong, Kukuak Balenggek, Haruai.
suku : Phasianidae.


Deskripsi

Gallus domesticus merupakan ayam yang tersebar luas di dunia, hidup di permukaan tanah. Dan merupakan ayam peliharaan hasil domestikasi dari jenis Gallus gallus. Sayap pendek membulat, ekor umumnya panjang. Jantan biasanya sangat indah, sedangkan betina suram (untuk menyamar). Bersarang di tanah. Pada yang jantan mempunyai jengger, gelambir dan taji di kakinya. Terbang seperti ragu-ragu dan biasanya hanya untuk jarak pendek, tetapi dapat berlari dengan baik. Iris merah, paruh warna tanduk sampai abu-abu putih susu, kaki abu-abu kebiruan. Unggas ini mempunyai suara yang bersih dan nyaring.

Ekologi



Habitat



Penyebaran Lokal / Status

Himalaya, Cina Selatan, Asia Tenggara, Sumatera dan Jawa.

Penyebaran Global



Kegunaan



Referensi

Mackinnon, John, Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994. LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Programme.



BANDUNG
Puyuh Gonggong
((Arborophila javanica))

nama lain :
Puyuh Gonggong Jawa, Chestnut-bellied Partridge
suku : Phasianidae.


Deskripsi

Berukuran sedang (25 cm), ditandai warna suram. Tiga ras dibedakan menurut perbedaan pola kepala. Semuanya mempunyai warna jingga kemerahan dan tanda hitam pada kepala serta warna kehitaman pada kalung leher. Dada, pungung, dan ekor keabu-abuan bergaris-garis hitam. Sayap kecoklatan dengan garis-garis hitam dan bintik-bintik. Tubuh bagian bawah coklat kemerahan. Iris abu-abu, paruh hitam, kaki merah. Suaranya seperti mandar, seekor burung atau lebih mengeluarkan serentetan teriakan ganda lembut monoton yang makin keras dan cepat, mirip Puyuh gonggong biasa. Puyuh ini mempunyai kebiasaan menghuni hutan pegunungan dan tempat terbuka. Umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Sering dijumpai melintasi jalur hutan bila mencari makan di atas daun-daun mati di tanah.

Ekologi



Habitat



Penyebaran Lokal / Status

Terbatas di Jawa Barat, dan Jawa Tengah (dipastikan sampai Gunung Lawu), dikenal tiga ras lokal. Tidak jarang ditemukan di hutan pegunungan antara ketinggian 1000-3000 m.

Penyebaran Global

Endemik di Jawa.

Kegunaan



Referensi

Mackinnon, John, Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994. LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Programme.



SUBANG
Ayam-ayaman
((Galicrex cinerea))

nama lain :
Mandar Bontod, Watercock
suku : Rallidae.


Deskripsi

Berukuran besar (40 cm), berwarna hitam atau coklat kekuningkeboan dengan paruh hijau pendek. Betina: coklat, dengan garis-garis halus pada tubuh bagian bawah. Jantan masa berbiak: bulu tubuh hitam dengan benjolan merah pada dahi (ciri ini hanya dapat dilihat di Sumatera). Iris coklat, paruh hijau-kuning, kaki hijau. Suaranya keras dan dalam di tempat bersarang pada musim panas, tetapi umumnya diam pada musim dingin. Binatang ini mempunyai sifat pemalu dilihat dari cara berjalannya yang mengendap-endap. Kebanyakan aktif pada malam hari, di rawa-rawa yang berbuluh. Kadang-kadang datang ke sawah yang berdekatan untuk memakan padi.

Ekologi



Habitat



Penyebaran Lokal / Status

Tercatat berbiak di Sumatera. Pengunjung musim dingin yang tidak umum di habitat dataran rendah yang cocok di seluruh Sunda Besar.

Penyebaran Global

India, China, Asia Tenggara,dan Filipina, bermigrasi sampai Sulawesi, Sunda Besar dan Nusa Tenggara.

Kegunaan



Referensi

Mackinnon, John, Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994. LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Programme.



KOTA BANDUNG
Cangkurileung/Kutilang
((Pycnonotus aurigaster))

nama lain :
Cangkurileung, Cucak Kutilang, Merbah Suti
suku : Pycnonotidae.


Deskripsi

Berukuran sedang (20 cm). Bertopi hitam dengan tunggir keputih-putihan dan tungging jingga kuning. Dagu dan kepala atas hitam. Kerah, tunggir, dada dan perut putih. Sayap hitam, ekor cok lat. Iris merah, paruh dan kaki hitam. Suaranya merdu dengan nada nyaring ”cuk-cuk” dan ”cang-kur” yang diulangi cepat. Hidup dalam kelompok yang aktif dan ribut, sering berbaur dengan jenis cucak lain. Lebih menyukai pepohonan terbuka atau habitat bersemak, di pinggir hutan, tumbuhan sekunder, taman, dan pekarangan atau bahkan kota besar.

Ekologi



Habitat



Penyebaran Lokal / Status

Terdapat di Sumatera. Di Sumatera Selatan mungkin kolonisasinya datang dari Jawa. Catatan pertama Kalimantan (Palangkaraya) tahun 1984. Di Jawa dan Bali, merupakan salah satu jenis yang tersebar paling luas dan umum, sampai ketinggian sekitar 1600 meter.

Penyebaran Global

China Selatan, Asia Tenggara, (kecuali Semenanjung Malaysia), dan Jawa. Di introduksi ke Sumatera dan Sulawesi Selatan. Baru-baru ini mencapai Kalimantan Selatan.

Kegunaan



Referensi

Mackinnon, John, Karen Phillips dan Bas Van Balen. 1994. LIPI-SERI PANDUAN LAPANGAN. Burung-burung di Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam). Puslitbang Biologi-LIPI & Birdlife International Indonesia Programme.



TASIKMALAYA
Ikan Gurame
((Ostronemus gurame))

nama lain :
Gurami, Guramih, Kelud, Kala, Kalui.
suku : Anabantidae.


Deskripsi

Badannya agak panjang, pipih (kompres) dan lebar. Mulutnya kecil, letaknya miring dan dapat disembulkan. Memiliki labirin, sehingga dapat dibudidayakan di perairan yang buntet (kolam buntuk). Pertumbuhan ikan gurami sangat lambat dan rentan terhadap serangan penyakit.

Ekologi



Habitat

Perairan tenang, seperti rawa, situ dan danau.

Penyebaran Lokal / Status

Perairan Indonesia, meliputi Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

Penyebaran Global



Kegunaan

Dagingnya digemari masyarakat luas, mempunyai harga jual tinggi dan mudah untuk dibudidayakan.

Referensi

Ety, Saanin et all. 1995. Diktat Kuliah Sumberdaya Hayati Ikan. Bogor: Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.

Kottelat, Maurice et al. 1993. Freshwater Fishes of Wastern Indonesia and Sulawesi. Jakarta: Periplus Edition (HK) Ltd & EMDI Projects.



CIAMIS
Macan Tutul
((Panthera pardus))

nama lain :
Harimau tutul, Macan/Harimau kumbang.
suku : Felidae.


Deskripsi

Macan tutul bercorak warna tutul-tutul hitam, diatas warna dasar tubuh kelabu kekuningan sampai merah kekuningan. Diantara hewan yang pandai memanjat ini terdapat individu berwarna hitam. Warna hitam ini disebabkan oleh adanya statu gen yang mengendalikan produksi pigmen melanin dalam tubuh, yang dikenal sebagai melanisme. Di Jawa, presentase melanisme pada harimau tutul agak tinggi, yaitu satu setiap 10 ekor. Umumnya, macan tutul jantan lebih besar daripada yang betina. Ukuran panjang rata-ratanya, termasuk ekor, pada yang jantan, 2.15 meter sedangkan pada yang betina 1.85 meter.

Ekologi



Habitat

Macan tutul sering ditemukan di savana kering sampai hutan tropis basah, dari dataran rendah sampai pegunungan.

Penyebaran Lokal / Status

Daerah penyebarannya meliputi Afrika, Asia kecil, Afganistán, Turku, India, Srilangka, Burma, Thailand, Indonesia, RRC, Uni Soviet, dan Malaysia Barat. Di Indonesia, hewan ini dijumpai di Jawa dan Pulau Karimunjawa.

Penyebaran Global



Kegunaan



Referensi

Setiawan B., dkk. 1989. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Volume 6. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.